September 09, 2016

Film Zombie yang Menginspirasi



  Train to Busan adalah film bergenre drama, eh horor, eh action, eh apa sih harusnya genre-nya? yang membuat dinding keberanian saya bergetar hebat tepat sebelum masuk ke ruang sinema. Sudah sekian lama saya tak pernah harus kepayahan menata nafas baik-baik mempersiapkan diri untuk menonton film di bioskop. Alasannya, kata orang ceritanya tentang zombie. Celakanya, saya sebenarnya paling anti film horor. Terakhir saya menonton zombie adalah film “I am A Legend”. Lupa sensasinya, inget keselnya pas anjing pelaku utama harus dibunuh sama si Will Smith sendiri gara-gara sudah terinfeksi virus zombie. Film yang menyisakan kesedihan berikut luka yang membekas.
Lebih dari sekadar luka emosional, saya juga menghindari film yang thrilling. Sejauh ini tak pernah saya temukan film zombie-zombiean yang nggak bikin deg-degan. Tiba-tiba zombie keluar dari kegelapan, atau ketika harus ikut ngos-ngosan pas lihat adegan orang dan zombie kejar-kejaran. Apalagi sensasi after taste-nya pas lagi jalan ke lewat lorong sendirian.
Singkat cerita, saya putuskan untuk bergabung dalam tim penonton Train to Busan. Bersama dengan empat orang teman sekantor, kami berangkat menuju Plaza Semanggi dimana disana ada Cinemaxx yang tiket filmnya jauh lebih murah dari Blitz. Lebih dari setengah harga murahnya. Setelah membeli popcorn micin dan minuman bersoda, kami masuk ke ruang sinema menata pantat agar memperoleh posisi ternyaman.

*


sources: http://wellgousa.com/theatrical/train-to-busan

Ada beberapa hal tak terduga tapi memang masuk akal dari film Train to Busan. Pertama, sebagai film produksi Korea Selatan, merupakan hal yang tak terlalu mengejutkan jika ceritanya menguras air mata. Mau nonton film zombie tapi malah bikin nangis? Nonton aja Train to Busan. Menurut saya, hal ini tak mengejutkan, melihat hampir semua film Korea yang pernah saya tonton tak bisa lari dari eksekusi cerita bernuansa drama.
Kedua, terlepas dari film ini wajar lebih bikin nangis dari pada bikin mringis ketakutan, Train to Busan sungguh membuat film zombie begitu ramah untuk para penakut. Alasannya, semua scene terjadi di siang hari. I am the Legend juga mengambil beberapa scene di siang hari, tapi tetep bikin deg-degan. Tetep bikin takut setengah mati, apalagi buat penakut seperti saya. 

sources: http://cdn5.thr.com/sites/default/files/2016/05/train_to_busan_h_2016.jpg

Selain itu, Train to Busan juga membuat terowongan jalur kereta nggak lagi horor. Setiap lihat terowongan kereta, saya selalu ingat scene di film Snowpiercer. Bukan film horor sih, film gore gitu, banyak adegan sadisnya. Nah, pas di terowongan itu, ada pasukan pembunuh yang sudah siap pakai kacamata infrared biar tetep bisa lihat orang yang jadi sasaran untuk dibunuh. Bayangin aja, di suatu gerbong kereta, ada dua kelompok. Satunya tanpa senjata, buluk, lemes tiap hari Cuma makan jeli dari kecoak, satunya gempal berotot, bawa senjata, bisa melihat di dalam gelap. Sadis banget adegannya. Eh tapi, di Train to Busan, terowongan itu, yang gelap itu, justru malah menguntungkan. Soalnya zombie-nya lebih kalem kalau gelap-gelapan.
Saya nggak mau spoiling lebih banyak sih. tapi itu sepintas pengalaman nonton film “horor” yang nggak melekat di beberapa hari berikutnya. Malahan menurut saya itu film drama aja. Zombie tuh Cuma bumbu-bumbu kehidupan. Tak lebih dari gelombang di pantai yang membuat pasir menjadi luruh dan hancur berkeping-keping.
Kalau sempat lihat trailernya, ada satu adegan epik dimana banyak zombie nggelendotin kereta ngejar manusia yang masih sehat. Sampe panjang gitu, sambung menyambung dan tindih menindih.
Saya kasih bintang 4 dari 5 deh. Bagus kok dan nggak nyesel nonton di bioskop. Eksekusinya parah bagus banget begitu juga dengan akting para pemainnya! Ya masuk cannes sih pasti kelas yaaaa....



***
Ini informasi untuk cast and crew nya disadur dari variety.com
Production
(South Korea) A Next Entertainment World release, presentation of a Redpeter Film production. (International sales: Contents Panda, Seoul.) Produced by Lee Dong-ha. Executive producer, Kim Woo-taek. Co-producer, Kim Yeon-ho.
Crew
Directed, written by Yeon Sang-ho. Camera (color, HD), Lee Hyung-deok; editor, Yang Jin-mo; music, Jang Young-gyu; production designer, Lee Mok-won; costume designer, Kwon Yoo-jin, Rim Seung-hee; sound, Choi Tae-young; special make-up, Kwak Tae-yong, Hwang Hyo-kyun; special effects, Demolition; visual effects supervisor, Jung Hwang-su; visual effects, Digital Idea.
With
Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi, Ma Dong-seok, Kim Eui-sung, Choi Woo-sik, An So-hee. (Korean dialogue)


Followers