June 13, 2014

Balada Hujan



Tari memegarkan payungnya yang warna-warni. Sepatu brokatnya berkecipak memecah air hujan yang sudah menggenangi jalanan beraspal. Earphone setia menempel di kedua kupingnya. Lagu-lagu Coldplay di album terbarunya, Ghost Stories mengalun manja. Baginya, lagu-lagu itu paling sesuai dengan suasana hatinya. Apalagi Tari baru saja mengalami perpisahan. Masih tersisa sedikit bercaknya. Agak merah tua. Menempel di suatu tempat di dadanya. Sakitnya, seperti luka karena tergencet barang raksasa. Tepat di dadanya.

Bibirnya masih menyungging senyum. Karena bagi Tari luka itu sudah menjadi teman. “Lebih dari dua bulan”, gerutunya. Lalu dia kembali menatap ke depan dan menarik kedua sisi mulutnya. Layaknya orang yang ingin tersenyum.

Jalanan gang itu tidak panjang. Sekitar 200 meter Tari sudah akan bertemu dengan ujungnya yang menyambungkan ke jalan yang lebih besar. Tapi, Tari tak sempat berpapasan dengan banyak orang. Sebab suara hujan masih mengalun, titik-titik airnya masih menari dengan riang di permukaan aspal. Genangan masih dimana-mana.

Sepatu brokatnya sudah seperti kain lap pel. Kuyup. Tari yang sedang menikmati sendu menerjang genangan air itu begitu saja. Tak peduli sepatu mulai mengerutkan dirinya. Tak suka. Karena mereka baru berteman tak begitu lama. Nampaknya si brokat tak suka diajak main air hujan. Tari tahu. Karena brokat mulai protes dengan membasahi kakinya. Air hujan dia serap banyak-banyak untuk membuat ujung-ujung kaki Tari ikut mengkerut seperti dirinya.



Tari tak peduli. Dia kadung senang bermain dengan genangan. Baginya kerutan di ujung kakinya tak lebih terasa dari kerutan lain di dalam dadanya. Tari sedang menikmati teman barunya. Sisa perpisahan yang mungkin tidak akan hilang sepanjang hidupnya.

Di penghujung perjalanannya, Tari bertemu dengan genangan yang tak main tingginya. Maka dia mengalah dengan si brokat. Dilepasnya brokat, lalu dia gendong dengan tangan kirinya. Giliran celana jinsnya yang dia ajak bermain. Melompat-lompat bersama melewati genangan air setinggi 30 centimeter-an agar bisa segera bertemu komputernya untuk menulis kisah ini.



No comments :

Post a Comment

Followers