April 18, 2013

#Jakarta5 Saya dan Angkot Brsahabat

beberapa minggu terakhir ini saya dan angkot menjadi sangat bersahabat. bagi saya, angkot hampir menggantikan posisi andro, suprafit saya di kampung halaman. walau kali ini saya tak boleh posesif sama angkot. karena angkot sudah takdirnya jadi milik bersama.

cerita mengenai hubungan saya dengan angkot berjalan begitu saja. kami membangun hubungan dengan mengikuti arus. arus lalu lintas jalanan ibukota. tidak bisa dipungkiri, sesekali saya akan mengingatnya sewaktu akan tidur atau begitu membuka mata. kenapa? karena jika saya bertemu angkot berarti saya sedang punya misi dari tempat saya bekerja. jangan salah menebak. saya bukan supir, pun kernet yang mendampinginya. hubungan saya dengan angkot sangat murni. murni numpang.

saya selalu berusaha membina hubungan baik dengan angkot. saya mencoba untuk menerima persahabatan ini apa adanya. saya selalu mencoba menikmati waktu kami bersama. ketika tengah hari dan panasnya matahari menembus kaca metro mini nomor 640 jurusan Tanah Abang - Pasar Minggu, angkot paling jadi langganan saya, saya hanya akan memicingkan mata. dan berpura-pura nyaman dengan keadaan di dalam angkot. walau nyatanya, imajinasi saya adalah terkurung dalam boks besi dan dibakar. saya menahan penderitaan itu hanya karena satu, saya ingin menjaga persahabatan saya dengan angkot.

hubungan kami jadi kiat dekat tentu punya awal. suatu kali saya harus merelakan angkot terjejali dengan penumpang-penumpang yang lain. sangat banyak. saya ingat waktu itu saya sedang ada misi menaklukan stasiun kereta yang banyak rel kereta apinya. di sebuah perempatan yang saya tidak tahu itu dimana, saya dan serombongan penumpang lainnya dioper ke angkot lainnya. karena terlambat pindah angkot dan kurang cekatan saya harus berdiri di pintu.

entah mengapa, bagi saya itu adalah kali pertama saya jatuh cinta pada angkot.


sejak saat itu saya sadar, diantara kursi reyot, besi karatan, dan kaca-kaca yang berdebu di dalam angkot, pintu adalah sebuah surga. layaknya dunia, maka pintu adalah tamannya. taman yang luas dengan pohon besar di tengahnya. jadi, karena taman itu luas kita bisa berlarian memakai dress yang dipajang di outlet Minima yang di Mall Kalibata. tentu sambil menikmati angin sepoi yang sesekali meniup dressnya. dress nya jadi goyang-goyang.

bedanya dengan pintu, ruangnya kecil. dan selalu menghadap di tepi jalan. dan di tepi jalan banyak orang jalan-jalan. jadi kostum dress yang dipajang di outlet Minima tidak cocok untuk ini. tapi, kesegaran dan kenikmatannya mencapai taraf yang sama bagi saya. kadang saya keluarkan sedikit kepala saya dan menghirup kebebasan udara luar yang sebenarnya tidak bebas dari pencemaran udara. dan lagi, kalau tidak sedang sangat penuh, saya bisa dimarahi kalau gelantungan di pintu metro mini atau kopaja.

jangan desak saya jadi kernet juga. walau itu pekerjaan mulia. saya terlalu lemah lembut dan tidak cadas. bukan tipikal yang bisa nagih bayaran angkot bergaya preman. hati saya terlalu heavy rotation. suatu kali pernah saya coba berpaling. namun sekali itu pula saya sadar, saya tidak ingin mengorbankan hidup saya dengan berpindah moda. bagaimana tidak. jika naik angkot saya hanya mengeluarkan 2000 rupiah, jika moda lain, minimal 10.000 rupiah. saya seperti sudah keliling kota dua setengah kali.

belum lagi, surga yang hanya ada di pintu metro mini dan kopaja taka akan saya temukan di moda yang lain. maka saya memutuskan untuk tetap menjalin hubungan yang baik dengan angkot. karena salah satu surga di ibukota yang (katanya) seperti neraka ini ada disitu.

taken from http://4.bp.blogspot.com/
sekian. semoga inspirational.

No comments :

Post a Comment

Followers