April 01, 2013

Jakarta #2

orang yang mengawali semua dengan merasa pintar, niscaya dia akan merasa lebih bodoh saat dia mulai benar-benar masuk didalamnya. percaya diri memang penting, ditambah ada sebuah standar masif bahwa dunia ini bisa jadi selebar daun kelor. namun bahwa banyak hal yang berhiruk pikuk di daun kelor ini juga menjadi pertimbangan tersendiri. dengan perjalanan yang tak kunjung rampung, dengan dunia kelor yang berubah dari masa ke masa, menandakan bahwa ada perubahan daun kelornya. tidak mungkin cuma satu. istilahnya, kita hidup melakukan perpindahan dari kelor satu ke kelor lainnya. artinya lagi walau kita sudah berhasil menjelajah satu daun kelor, dan kita sudah merasa hafal dengan medannya yang gitu-gitu aja, belum tentu daun kelor yang lain juga demikian. maka dari itu, jangan berprinsip layaknya bahwa dunia ini hanya selebar satu daun kelor.

suatu pagi dan beberapa pagi yang lain akan membuat banyak orang di dunia kelor ini tersadar bahwa mereka harus keluar. keluar dari rasa percaya diri mereka dan mulai membuka diri dengan kelor lainnya. inget film fairy tale ingatlah dunia ini. karena banyak kelor di sana dan peri-peri bisa beterbangan diantaranya. tapi itulah lebihnya peri. bisa terbang jadi lebih gampang mau ke kelor satu ke yang lainnya. tapi manusia bukan tidak mungkin memiliki kekuatan super seperti peri. asal punya kemauan dan kemampuan yang lebih, bukan tidak mungkin manusia bisa bersayap dan terbang kayak peri.

saya tidak takut peri. semoga Anda pun demikian. walaupun peri beruntung karena bisa memiliki sayap yang membuatny bisa terbang kemana saja, tapi kita lebih beruntung karena punya kuping yang tidak berujung runcing seperti miliknya. artinya, bentuk kuping kita lebih indah dan itu membuat seluruh diri kita nampak lebih indah (pada kasus tertentu). yang ingin saya sampaikan disini adalah apapun yang terjadi setiap orang pasti punya kelebihan masing-masing. makanya kita tidak dibuat sempurna. setiap individu pasti memiliki jalan masing-masing yang pernah mereka lalui. dan itu membentuk pengalaman personal masing-masing. hal itu berdampak pada karakter dan pilihan-pilihan yang mereka selanjutnya.

kelor-kelor yang mereka tapaki berbeda. maka, wajar jika mereka memiliki kuping atau sayap (dan tanpa sayap) yang membuat peri dan manusia berbeda. ah, sebenarnya membincang tentang perbedaan sangat tidak koheren jika disandingkan dengan rupa fisik. apapun itu. namun, saya mencari pembenaran bahwa peri maupun manusia punya kemampuan masing-masing. peri bisa terbang, manusia dapat berpikir lebih rumit. (perbedaan apalagi ini).

mungkin salah juga jika saya sedari awal meminta peri untuk jadi obyek perbandingan disini. tapi ya sudahlah. yang penting intinya sudah didapat. bahwa kelor-kelor itu membentuk setiap manusia jadi berbeda. saya jadi inget di sebuah kelas jurnalistik seorang wartawan pernah berucap setiap peristiwa itu bisa dilihat dari 360 derajat sisi. ya anggap saja saya sedang melihat melalui derajat yang kesekian dan menjadi sedikit rancu. hahahaha.



ah, saya nulis apa sih. saya juga bingung.

No comments :

Post a Comment

Followers