October 17, 2013

Jakarta #7 pipiw

today should be a great day. one of my worksmate was having a birthday party - such as. but, my bad, i've got the worst mood up from a week before. so, i made much bad things. then last night turn out to be one of my worst night ever. 




June 24, 2013

Paved Paradise With a Parking Lot

They took all the trees and put them in a tree museum. 
And they charged all the people 
A dollar and a half just to see 'em. 
Don't it always seem to go
That you don't know what you've got till it's gone? 
They paved paradise and put up a parking lot.


***

empat orang berjalan riang. sebuah taman raksasa tengah kota terbentang di depan mereka. penuh dengan berbagai rupa tanaman raksasa yang menjulang membentuk tenda-tenda alam. 
"Waaaa....Kebun Rayaaaa!!!" kata salah seorang perempuan diantara mereka girang. Dia bernama Miwa (bukan nama sebenarnya). Miwa sejak kecil tinggal di sebuah komplek di pinggir kota besar Jakarta. Dia kerap kali mengklaim sebagai anak komplek yang jarang main layaknya acara Bolang. Tak main di sawah apalagi di hutan.
Miwa senang sekali bisa ke Kebun Raya. disana banyak sekali tanaman besar. udaranya pun segar. tak ada yang tak suka dengan udara yang segar dan merasa dekat dengan alam. apalagi Kebun Raya bisa ditempuh dengan Kereta Commuter dari rumahnya dengan menghabiskan waktu sekitar satu jam saja.
Miwa tentu begitu senang karena itu kunjungan pertamanya. Kebun Raya nampak sangat ramah menyambutnya dengan rimbunan daun dan ranting dari pepohonan tua. bersama ketiga temannya, Miwa telah bersiap melakukan kunjungannya pada sebuah taman museum pepohonan yang untuk memasukinya mereka harus membayar di loket sejumlah 14.000 rupiah. (like a dollar and a half__ just to see'em).

***

hari itu adalah hari piknik sedunia. setiap orang berbondong ke stasiun kereta dan menyiapkan perbekalannya.

April 18, 2013

Rumah Pink sayang Venus

suatu hari yang cerah saya masih terlelap. waktu itu kalau tidak salah sekitar pukul 11 siang. kamar saya gelap karena lampu dimatikan. suara ketukan itu makin jelas. "Mbak adis! Mbak Adis!" setengah sadar saya dengar suara memanggil saya dengan nada cemas dari balik pintu kamar. saya terbangun, terkaget, dan panik. langsung saya bangun dan buru-buru membuka pintu kamar. saya kembali kaget saat salah seorang teman serumah mengatakan sesuatu yang bagi saya terdengar tidak begitu jelas. "Mbak Adis Mbak adis venus mati...venus...."katanya sedih, dan nampak berintonasi kacau kala itu. saya semakin kaget. dia nampak begitu terguncang. saya memeluknya langsung seketika itu. saya usap kepalanya. saya berharap itu akan membantunya menenangkan diri sejenak.

venus datang sebagai anggota keluarga baru kami di rumah pink 42 pada sebuah hari yang cerah di pertengahan tahun lalu. begitu kami menyebut rumah itu. rumah yang penuh keramahan dan kehangatan. rumah yang sesungguhnya bagi saya. dan saya maih begitu kehilangan rumah itu hingga saat ini. sebulan lalu saya telah meninggalkannya. kembali lagi pada venus, dia datang bersama seorang perempuan keturunan Jerman- Bali yang kemudian akrab kami sapa dengan nama Ley. kata Ley, dia adalah mama venus.

Venus adalah seekor kucing kampung biasa. umurnya saat datang ke rumah kami sekitar 2 tahun. tetapi venus tak pernah punya keturunan. dia sudah dikebiri sebelum siap kawin. dia cantik dan anggun. ditambah sedikit pemalu dengan orang baru. bukan tipe kucing manja yang senang dipegang. dia sedikit angkuh untuk nampak layaknya kucing lainnya. venus lebih senang mengurung diri di kamar pada hari-hari awal dia pindahan. jadi kami sebagai anggota rumah yang lama yang harus main ke kamarnya untuk berkenalan.

kami dan venus pun lambat laun berteman. saya ingat saat dia jadi semakin bossy gara-gara disayang semua orang. tiap malam habis jalan-jalan dia akan pulang. tinggal meong-meong di depan pintu depan maka saya dan kawan-kawan lain yang akan membukakannya pintu. pernah suatu kali venus tak pulang suatu malam. kami serumah justru bertanya-tanya tumben si nyonya tak minta dibukakan pintu. venus semakin sering pergi ketika 2 anggota rumah baru datang. si kucing pungut lucu bernama optimus pilo dan si kucing bandel bernama jono. sayang sekali pilo dan jono berteman dekat. venus si kucing anggun enggan untuk berkenalan dan bermain bersama mereka.

venus jadi makin sering main. venus pulang hanya untuk minta makan. kadang tiduran ketika jono dan pilo sedang tidur di sudut rumah yang lain. mungkin dia berpikir mumpung lagi sepi gak diganggu sama anak-anak bandel.



pagi itu venus juga tak pulang. anggota rumah pink 42 mulai berpikir venus keterlaluan. makin sering dugem semalaman. namun kenyataan mengatakan hal lain. Ley masih terguncang. sembari menahan air matanya dia menjelaskan pada saya apa yang dia lihat di pinggir jalan yang letaknya tak jauh dari rumah. kami, saya dan ley bergegas kesana. membawa sebuah handuk bekas tak terpakai.


saya melihatnya. dia adalah venus. kalung terbuat dari kulit melingkar di lehernya adalah bukti. venus mati. dia terlindas kendaraan lewat. venus sudah kaku. kepalanya terlumuri darah yang sebagian sudah mengering. saya tahu Ley tak akan kuat lebih lama memandangnya. saya lingkarkan handuk bekas yang tadi dibawa untuk mengangkat venus. kami menggotongnya pulang. Ley mulai menggali lubang untuk menguburkan venus. kami diam sambil menggali. sesekali Ley berbicara tentang venus. dia marah-marah. dia marah-marah sama venus yang suka main malam-malam. dia marah-marah.

venus pun akhirnya dikuburkan. Ley meletakkan stok frieskies basah terakhir untuk venus. intan, seorang anggota rumah pink juga memberikan sebatang bunga mawar.


kami sedih. awan menjadi lebih mendung waktu itu.


di sore harinya kami mendengarkan lagu jane birkin - yesterday yes a day sembari menikmati sore.





P.S.
untuk Venus yang dicintai semua anggota rumahpink42
malam ini saya sangat merindukan keangkuhanmu yang suka merepotkan orang rumah di malam hari.


RIP


#Jakarta5 Saya dan Angkot Brsahabat

beberapa minggu terakhir ini saya dan angkot menjadi sangat bersahabat. bagi saya, angkot hampir menggantikan posisi andro, suprafit saya di kampung halaman. walau kali ini saya tak boleh posesif sama angkot. karena angkot sudah takdirnya jadi milik bersama.

cerita mengenai hubungan saya dengan angkot berjalan begitu saja. kami membangun hubungan dengan mengikuti arus. arus lalu lintas jalanan ibukota. tidak bisa dipungkiri, sesekali saya akan mengingatnya sewaktu akan tidur atau begitu membuka mata. kenapa? karena jika saya bertemu angkot berarti saya sedang punya misi dari tempat saya bekerja. jangan salah menebak. saya bukan supir, pun kernet yang mendampinginya. hubungan saya dengan angkot sangat murni. murni numpang.

saya selalu berusaha membina hubungan baik dengan angkot. saya mencoba untuk menerima persahabatan ini apa adanya. saya selalu mencoba menikmati waktu kami bersama. ketika tengah hari dan panasnya matahari menembus kaca metro mini nomor 640 jurusan Tanah Abang - Pasar Minggu, angkot paling jadi langganan saya, saya hanya akan memicingkan mata. dan berpura-pura nyaman dengan keadaan di dalam angkot. walau nyatanya, imajinasi saya adalah terkurung dalam boks besi dan dibakar. saya menahan penderitaan itu hanya karena satu, saya ingin menjaga persahabatan saya dengan angkot.

hubungan kami jadi kiat dekat tentu punya awal. suatu kali saya harus merelakan angkot terjejali dengan penumpang-penumpang yang lain. sangat banyak. saya ingat waktu itu saya sedang ada misi menaklukan stasiun kereta yang banyak rel kereta apinya. di sebuah perempatan yang saya tidak tahu itu dimana, saya dan serombongan penumpang lainnya dioper ke angkot lainnya. karena terlambat pindah angkot dan kurang cekatan saya harus berdiri di pintu.

entah mengapa, bagi saya itu adalah kali pertama saya jatuh cinta pada angkot.


sejak saat itu saya sadar, diantara kursi reyot, besi karatan, dan kaca-kaca yang berdebu di dalam angkot, pintu adalah sebuah surga. layaknya dunia, maka pintu adalah tamannya. taman yang luas dengan pohon besar di tengahnya. jadi, karena taman itu luas kita bisa berlarian memakai dress yang dipajang di outlet Minima yang di Mall Kalibata. tentu sambil menikmati angin sepoi yang sesekali meniup dressnya. dress nya jadi goyang-goyang.

bedanya dengan pintu, ruangnya kecil. dan selalu menghadap di tepi jalan. dan di tepi jalan banyak orang jalan-jalan. jadi kostum dress yang dipajang di outlet Minima tidak cocok untuk ini. tapi, kesegaran dan kenikmatannya mencapai taraf yang sama bagi saya. kadang saya keluarkan sedikit kepala saya dan menghirup kebebasan udara luar yang sebenarnya tidak bebas dari pencemaran udara. dan lagi, kalau tidak sedang sangat penuh, saya bisa dimarahi kalau gelantungan di pintu metro mini atau kopaja.

jangan desak saya jadi kernet juga. walau itu pekerjaan mulia. saya terlalu lemah lembut dan tidak cadas. bukan tipikal yang bisa nagih bayaran angkot bergaya preman. hati saya terlalu heavy rotation. suatu kali pernah saya coba berpaling. namun sekali itu pula saya sadar, saya tidak ingin mengorbankan hidup saya dengan berpindah moda. bagaimana tidak. jika naik angkot saya hanya mengeluarkan 2000 rupiah, jika moda lain, minimal 10.000 rupiah. saya seperti sudah keliling kota dua setengah kali.

belum lagi, surga yang hanya ada di pintu metro mini dan kopaja taka akan saya temukan di moda yang lain. maka saya memutuskan untuk tetap menjalin hubungan yang baik dengan angkot. karena salah satu surga di ibukota yang (katanya) seperti neraka ini ada disitu.

taken from http://4.bp.blogspot.com/
sekian. semoga inspirational.

April 04, 2013

Jakarta #3 Love is Unconditionally

Ani masih sibuk dengan ponsel blackberrynya. layaknya anak muda lain, Ani sangat menggandrungi salah satu terobosan canggih alat telekomunikasi abad ini. bagaimana tidak. ponsel Blackberry (BB ) ini telah berhasil mengkonvergensikan berbagai bentuk teknologi komunikasi sebelumnya. baik SMS, telepon, bahkan koneksi internet. plus, aplikasi chat eksklusif yang tersohor dengan nama blackberry messanger atau ngetren dengan sebutan bbm.

namun kali ini Ani tidak sedang asyik mahsyuk dengan bbm. dia sedang asyik melihat timeline di salah satu akun sosial medianya, twitter. tak lama, di ruang kamar kos yang sedang berisikan tiga perempuan itu, Ani, Rubiah, dan Ngatiyem nyeletuk, " Nih beb, denger ya!" katanya membacakan salah satu tweet yang dia temukan di timeline, "Love is unconditionally, relationship is....".

kedua perempuan lain pun sedikit terbahak dan mulai berpikir tentang kondisi dan un-kondisi masing-masing.

****

sedikit berpikir, ada yang mengganjal dengan statement 'love is unconditionally'. sebenarnya bisa dikata ini statement sederhana. hingga kemudian sangat mudah mengkaitkannya dengan berbagai peristiwa keseharian. bagaimana kita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kucing tetangga, atau ketika kita menemukan gado-gado murah dengan rasa mewah. lalu terjadilah jatuh cinta. love is unconditionally.

tetapi sebagai manusia yang senang berdialektika (baca:selo), kadang hal yang lebih tak masuk akal pun bisa membuktikan bahwa love is unconditionally. misalnya, ketika cinta itu tumbuh dan menjadi hubungan yang terlarang. bukan. bukan mengenai hubungan pengedar narkoba dengan para nasabahnya. lebih serius sedikit, mengenai rasa cinta yang tumbuh sendiri dengan si A walau kita sudah punya komitmen cinta dengan si B. karena cinta itu bisa muncul kapan saja dimana saja.

cinta kadang bisa tumbuh dan hanya tumbuh tanpa pernah menyambungkannya dengan apa yang dicinta. lebih banyak yang demikian. atau bisa juga, walau sudah saling cinta namun tak pernah meng-on kan saluran diantara mereka. kalau jatuh cinta sama kucing tetangga sih lebih mungkin terjadi pada kasus pertama. kecuali Anda punya stok whiskas yang banyak. seperti ungkapan, cinta itu dimulai dari perut, naik ke hati, lalu ke mulut. lalu dilafazhkan deh. meong!

perihal mencinta dan dicinta sebenarnya sudah pembicaraan basi. namun, hal itu adalah kebutuhan. tidak ada orang yang tak mau dicintai. tak pula ada orang yang tak mencintai siapapun. maka, John Lenon selalu berkampanye untuk saling mencintai. untuk life in peace. untuk kebahagiaan seluruh dunia. bahwa kemudian muncul pucuk dicinta (ulam tak tiba-tiba) itu adalah hal lumrah. sangat manusiawi. yang menjadi persoalan adalah jika the unconditional thing grows wildly. semua yang berlebihan kan tidak baik. termasuk cinta-cinta yang tumbuh di hati para manusia yang haus dicinta.

perlu ada batasan, bahkan prinsip yang kuat untuk memilih dalam kondisi yang tidak memungkinkan. atau bahkan di kondisi yang memungkinkan. tapi hanya diri personal yang mampu membangunnya sendiri.

mungkin sebab itulah relationship dibutuhkan. untuk membuat kita tahu cinta yang mana dan seperti apa yang harus kita berikan dan terima dari pihak lainnya. namun, sepanjang pembahasan ini, tetap semua kembali ke setiap diri masing-masing. toh, ini sangat menyangkut pilihan pribadi masing-masing.

hal ini pula yang kini tengah memenuhi benak ketiga perempuan dalam kamar kos berwarna krem itu. Ani yang sibuk dengan tarik ulur hubungan percintaannya dengan sang mantan, Rubiah yang sedang kebingungan karena suka dengan pacar orang, dan Ngatiyem yang terbengong membaca pesan pendek dari pacarnya. kata pacarnya, "Kangen". sementara dia sedang merindukan lelaki lainnya, yang duduk di seberang meja kerjanya di kantor.



April 01, 2013

Jakarta #2

orang yang mengawali semua dengan merasa pintar, niscaya dia akan merasa lebih bodoh saat dia mulai benar-benar masuk didalamnya. percaya diri memang penting, ditambah ada sebuah standar masif bahwa dunia ini bisa jadi selebar daun kelor. namun bahwa banyak hal yang berhiruk pikuk di daun kelor ini juga menjadi pertimbangan tersendiri. dengan perjalanan yang tak kunjung rampung, dengan dunia kelor yang berubah dari masa ke masa, menandakan bahwa ada perubahan daun kelornya. tidak mungkin cuma satu. istilahnya, kita hidup melakukan perpindahan dari kelor satu ke kelor lainnya. artinya lagi walau kita sudah berhasil menjelajah satu daun kelor, dan kita sudah merasa hafal dengan medannya yang gitu-gitu aja, belum tentu daun kelor yang lain juga demikian. maka dari itu, jangan berprinsip layaknya bahwa dunia ini hanya selebar satu daun kelor.

suatu pagi dan beberapa pagi yang lain akan membuat banyak orang di dunia kelor ini tersadar bahwa mereka harus keluar. keluar dari rasa percaya diri mereka dan mulai membuka diri dengan kelor lainnya. inget film fairy tale ingatlah dunia ini. karena banyak kelor di sana dan peri-peri bisa beterbangan diantaranya. tapi itulah lebihnya peri. bisa terbang jadi lebih gampang mau ke kelor satu ke yang lainnya. tapi manusia bukan tidak mungkin memiliki kekuatan super seperti peri. asal punya kemauan dan kemampuan yang lebih, bukan tidak mungkin manusia bisa bersayap dan terbang kayak peri.

saya tidak takut peri. semoga Anda pun demikian. walaupun peri beruntung karena bisa memiliki sayap yang membuatny bisa terbang kemana saja, tapi kita lebih beruntung karena punya kuping yang tidak berujung runcing seperti miliknya. artinya, bentuk kuping kita lebih indah dan itu membuat seluruh diri kita nampak lebih indah (pada kasus tertentu). yang ingin saya sampaikan disini adalah apapun yang terjadi setiap orang pasti punya kelebihan masing-masing. makanya kita tidak dibuat sempurna. setiap individu pasti memiliki jalan masing-masing yang pernah mereka lalui. dan itu membentuk pengalaman personal masing-masing. hal itu berdampak pada karakter dan pilihan-pilihan yang mereka selanjutnya.

kelor-kelor yang mereka tapaki berbeda. maka, wajar jika mereka memiliki kuping atau sayap (dan tanpa sayap) yang membuat peri dan manusia berbeda. ah, sebenarnya membincang tentang perbedaan sangat tidak koheren jika disandingkan dengan rupa fisik. apapun itu. namun, saya mencari pembenaran bahwa peri maupun manusia punya kemampuan masing-masing. peri bisa terbang, manusia dapat berpikir lebih rumit. (perbedaan apalagi ini).

mungkin salah juga jika saya sedari awal meminta peri untuk jadi obyek perbandingan disini. tapi ya sudahlah. yang penting intinya sudah didapat. bahwa kelor-kelor itu membentuk setiap manusia jadi berbeda. saya jadi inget di sebuah kelas jurnalistik seorang wartawan pernah berucap setiap peristiwa itu bisa dilihat dari 360 derajat sisi. ya anggap saja saya sedang melihat melalui derajat yang kesekian dan menjadi sedikit rancu. hahahaha.



ah, saya nulis apa sih. saya juga bingung.

March 19, 2013

jakarta #1

mulai hari ini saya resmi merantau lagi. menjadi kembali terasing dan selalu tersesat sampai nanti saya temukan keluarga baru. atau... seperti biasanya, mereka akan menemukan saya terlebih dahulu. lima tahun kebelakang boleh dikata saya telah punya banyak kerabat akrab nan hangat yang saya temukan (dan menemukan saya) di Yogyakarta. layaknya seorang mahasiswa sosial walau cenderung mempelajari dunia media dan jurnalistik, saya telah menapaki berbagai bentuk hingar bingar pesta pora humaniora di Yogyakarta.

keluarga terakhir saya dan sangat amat berkesan adalah sebuah komunal yang hidup dalam satu atap bernama Rumah Pink. saya menemukan kehangatan, keterbukaan dan saya sangat banyak belajar mengenai bersosialita. tunggu dulu, bersosialita ? saya pikir kelompok ini telah menikmati bersama berbagai jenis gaya hidup. mulai dari sosialita, hingga sosial miskin. kami tak pernah mencoba untuk hidup dalam satu gaya hidup lebih lebih melabeli diri kami. kami hidup hanya untuk menikmatinya (saya rasa demikian).


saya bingung untuk menceritakan lebih dalam tentang keluarga saya yang satu ini. mungkin akan saya bahas lagi lain kali lain kesempatan supaya lebih spesial.

kembali ke topik pembicaraan, hari ini saya sudah selesai membereskan kamar kos baru yang akan saya tempati. saya juga sudah berniat tidak akan menengok ke belakang lagi.




jadi daripada ngeluh lagi, mari saya mulai hari hari ke depan dengan membaca basmallah bersama, 

BISMILLAH HIROHMANIROHIM


Followers