September 23, 2012

kompor dua tungku baru

suatu hari aku bangun begitu siang. pukul setengah satu siang aku memutuskan untuk keluar kamar. tiba-tiba seorang teman serumahku sekaligus teman yang sangat dekat untukku kulihat meloncat-loncat keluar dari pintu dapur. aku masih tidak paham ucapan-ucapan yang ditujukan padaku. aku hanya dengan sedikit rabun memicingkan mata sembari mencoba mencerna peristiwa aneh siang itu. kujawab, "iyaaa, apaaaa..." sembari berjalan menuju dapur. lalu kulihat sebuah kardus yang aku langsung tahu, kardus kompor baru dengan dua tungku. kompor impian mbak ocha-begitu panggilan akrabku dengannya- temanku yang tadi bergaya lompat-lompat kegirangan.

aku yang masih setengah nyawa hanya diam memandang barang canggih baru di rumah kami. Ley, seorang teman serumahku yang lain nampak sedang sibuk menata dan memasang kompor berikut selangnya. dia senyam senyum dan sesekali nampak bingung mengenai prosedur pemasangan yang benar. tak lama kemudian aku yang masih terlarut dengan sisa kantukku mulai melihat mereka berdua mulai berdiskusi mengenai pemasangan selang kompor sambil sesekali berdebat. aku diam. hidungku sedang ngilu karena kebanyakan tidur. pikiranku pun masih berada di antah berantah. aku tidak yakin kedua temanku ini mengerti bahwa aku salah satu anggota rumah yang sangat menolak pemborosan anggaran rumah untuk membeli kompor dua tungku. maka akupun tak berminat turut terjun dalam pemasangan bersejarah ini. dalam diamku dan ngilu hidungku, aku menatap adegan-demi adegan di dapur itu sembari berpikir, "Duh, iuran lagi. minta duit mama lagi." memang akhir-akhir ini bisa dikatakan keuanganku sedang terbelit. agak berlebihan memang. namun mengingat kondisiku sebagai pengangguran ada ketidakenakan hati meminta duit ke orangtua.

akhirnya, aku pasrah. aku mulai memutar cara untuk menemukan sekian puluh ribu uang untuk membiayai barang mahal yang mungkin akan sangat jarang aku gunakan. dan tentu tidak dalam waktu lama karena aku selalu berdoa semoga cepat mendapat pekerjaan.

mungkin bisa dibilang, kadang kita harus lebih mengalah. pada keadaan yang tidak bisa lagi didebat.


sudah, aku mau mengecek rendeman cucian.


yogyakarta, 24 September 2012






Followers