July 29, 2011

yakin?

yakin.

ini cuma sebuah kata. tapi bisa menjadikan kita mempercayai sesuatu dan itu merubah seluruh hidup kita. yakin dia setia, yakin dia selingkuh, yakin dia punya titit, yakin menang lomba, yakin dan yakin yang lain. yakin itu menurut saya kata yang membuat kita mudah sakit hati. sebab saat kita yakin kita akan percaya sepenuhnya dengan apa yang kita yakini. tetapi, jika kenyataannya tak seperti yang kita yakini, silakan bayangkan sendiri bagaimana rasanya. bagi saya, itu akan lebih dari sakit. lebih dari kekecewaan karena dibohongi. sebab rasa yakin itu seperti benteng yang sangat kuat atas pendapat-pendapat lain yang tidak ingin kita yakini. jadi keyakinan itu seperti bundaran perlindungan. apa jadinya jika apa yang kita lindungi itu justru malah mencoba dengan serampangan dan brutal merusak benteng keyakinan yang sudah kita bangun dengan kuat.


apakah yakin itu penting? saya sendiri tidak yakin bahwa merasa yakin itu penting. bukan. kita bukan sedang membicarakan tentang keyakinan religius. walau itu masuk dalam yang saya bahas ini, namun saya takut mengganggunya. saya sendiri bukan seorang ateis. saya tidak mau meruntuhkan pendirian saya itu. 

penting atau tidaknya membangun rasa yakin itu pilihan. tapi bagi saya, rasa yakin itu kebodohan. hidup itu penuh dengan spekulasi dan dinamis. keyakinan akan membuat kita terpatok pada hal yang buruk. kekecewaan, sakit hati. ah, saya sendiri sungguh tidak menyarankan untuk yakin sepenuhnya pada sesuatu. saya lebih memilih untuk mencari sendiri jalan yang ingin saya tempuh daripada sekadar yakin. yakin saya akan segera bertemu pacar akan memberikan harapan kosong dibanding saya berusaha mengemis pada pacar untuk bertemu. 


mungkin cara saya agak brutal dan tidak tahu malu. tapi saya lebih suka daripada saya cuma yakin dan melongo saja. jika saya berpikir "saya yakin kok suatu saat saya akan bertemu pacar" itu seperti orang bodoh yang cuma ngawang2. beda dengan jika saya berpikir" bagaimana caranya saya tahu kapan saya bisa ketemu pacar?". menurut saya itu lebih realistis walau mungkin lebih sulit. saya benar-benar marah dengan pembicaraan malam ini. memang ini akumulasi atas kekecewaan dari keyakinan-keyakinan saya tentang "suatu saat" yang tak kunjung datang. bahkan usaha lebih realistis saya pun juga ditampik mentah-mentah dengan keyakinan pacar. 

iya, iya, saya lagi curhat ini. tapi apa yang saya rasakan ini ada hikmahnya. mungkin yakin itu penting. tapi yakin akan hal-hal yang pasti. bukan pada sebuah harapan. harapan itu bukan sekadar diyakini, tapi diwujudkan. itu menurut saya adalah pilihan yang lebih realistis.


pacar, sekarang tahu kan kenapa saya bilang penunjuk arah itu nggak ada? karena kamu sebagai partnerku jalan enggak kasih ke aku. karena itu kamu simpan sendiri. aku cuma mengikutimu dan nggak tahu kita akan kemana. makanya, aku tidak ingin menjadi yakin akan ada hal yang lebih baik. itu sama sekali tidak akan menghiburku. tapi justru menerorku. 


belajar ya, untuk memilih mana yang bisa diyakini mana yang lebih baik ditindaki secara realistis :)


regards


adistya cantik

2 comments :

  1. nice post.. good thought:)
    eniwei, salam kenal..

    ReplyDelete
  2. aku adalah orang yang hidup dari ke-yakin-an
    aku yakin dan percaya cita-cita dan harapan yg aku punya akan jadi nyata

    "harapan itu bukan sekadar diyakini, tapi diwujudkan."
    tapi kita juga harus kerja keras buwat wujudin

    semangad adis cantik :D

    ReplyDelete

Followers