July 15, 2011

WHAT A "WHITE LIE"

ketika saya berkata,"aku selalu bingung mengapa orang bisa begitu menyukai puisi?" artinya adalah "aku tahu puisi itu indah. aku ingin menyukainya, tapi entah mengapa aku tak mengetahui caranya. bisakah kamu membantuku?" (adis, 2011)

quote di atas bukan sembarang quote. dia adalah wakil dari banyak ucapan lain yang selalu dibarengi dengan makna implisit yang justru kontradiktif dengan kalimat yang secara eksplisit terucap. saya bukan lantas ingin menganggap bahwa kebanyakan dari apa yang kita ucapkan adalah sesuatu kontradiktif, tapi ada saat dimana kalimat-kalimat itu mengandung makna "tidak demikian yang sebenarnya". 
kadang sifat semacam ini banyak melanda mereka yang introvert dan (sok) heroik. seperti yang sering saya ikuti dalam drama-drama korea, cina, taiwan, atau jepang. adegan selanjutnya adalah ekspresi penderitaan karena apa yang diinginkannya tidak pernah terucap apalagi kesampaian. kadang itu digambarkan dengan raut muka saja, atau adegan nahan nangis saja, atau yang agak lebih dramatis, nangis nyesek di sudut ruangan sendirian. iya, saya akui saya korban serial Asia. dan kenyataannya dalam konteks ini, menurut saya serial Asia adalah contoh yang paling relevan dan empiris. 


baiklah, terlepas dari apakah itu hanya merupakan realitas media dalam serial korea, pada kenyataannya kalimat-kalimat bohong sering terucap dalam percakapan sehari-hari. entah karena ingin mendramatisir hidup, ingin punya masalah, ataupun karena ingin punya pikiran daripada menjalani hidup yang hambar.banyak motif yang melatarbelakanginya. tapi satu hal yang pasti, itu BUKAN hal yang BAIK. 


inget kan iklan salah satu operator seluler yang lucuk itu? yang logonya didominasi warna ungu yang ceritanya tentang pentingnya blak-blakan"? nah, menurut saya iklan itu cukup bisa membantu saya pribadi untuk berintrospeksi diri mengenai kejujuran. sebab apa sih gunanya menutupi keinginan kita? memendamnya untuk (dengan motif heroik) membuat orang lain bahagia dan kita pasti menderita? pengorbanan memang kadang dilakukan, tetapi membela diri dan berjuang untuk kebahagiaan diri itu penting. saya yakin kamu juga sepakat dengan hal itu. 


lalu bagaimana seharusnya? salah satu dosen saya ernah mengkritik presentasi saya di kelas karena terlalu banyak menjelaskan hal yang bersifat teoritis dan idealis. padahal justru analisis terhadap realitas sosial itu lebih penting. maka, disini saya katakan bahwa tidak ada jawaban yang lebih idealis dan sempurna mengenai solusi dari "kebohongan" atau blak-blakan. kalo sempurna yang harus bisa di tengah-tengahnya. tapi tidak akan ada orang yang bisa konsisten dengan moodnya. kadang orang bisa menjadi begitu bijak, kadang juga begitu emosional dan sensitif. lalu enaknya bagaimana dong? 


saya sih memberi saran saja, karena semua orang itu sesungguhnya moody, terapi untuk kontrol emosi itu bisa sedikit banyak mengurangi kesalahan yang bisa membuat diri kamu menderita karena "berbohong". atau karena terlalu blak-blakan. ya, menurut saya itu adalah langkah awal yang harus bisa sukses dulu dijalankan.


mmm... mungkin itu saja. selamat mencoba :)

No comments :

Post a Comment

Followers