May 11, 2011

KERETA

dulu, ketika saya masih senang membaca novel, saya sering mendapati bahwa kereta menjadi tempat yang paling sering menjadi tempat pelarian kala si tokoh mengalami masalah percintaan. lalu saya lihat juga dalam film drama, adegan merenung dalam kereta hampir selalu ada ketika pasangan yang menjadi fokus utama cerita film tersebut juga mengalami masalah. kereta selalu menjadi tempat untuk menumpahkan angan tentang kerinduan, kepenatan, kekosongan, penantian, dan perpisahan.


sejak saat itu, sejak saya banyak melihat tentang kereta dan kegalauan, saya menjadi berharap, suatu saat perjalanan saya pun akan terekam melalui jendela kereta. tempat dimana para tokoh novel maupun film biasa menelan, merasakan, bahkan menghempaskan semua pikiran dan otak yang meracau.


kereta dan jendelanya menjadikan saya terobsesi akan lamunan dan tatapan jauh yang kosong namun memenuhi otak kanan. perasaan ketika mata yang kosong justru menyerap pemandangan yang luas. mata yang kemudian menjadi nanar ketika otak kanan bekerja mengingat dan seakan ingin menggapai hal-hal jauh yang seperti membayang. ketika otak mengendalikan mata untuk menatap, tangan untuk menggenggam kekosongan, dan kepala yang lunglai d kursi yang empuk. lalu yang muncul menjadi kesedihan atas perpisahan atau harapan atas penantian.


semuanya hanya melalui kereta dan jendelanya.


saya pun akhirnya dapat merasakan itu semua. melalui jasa sebuah kereta yang menghubungkanku dengannya. melalui sebuah kereta bernama prameks. kereta ini kereta yang tidak biasa. kereta yang kalah jauh rutenya dengan berbagai kereta lain yang menghubungkan kota-kota di pulau jawa. prameks mungkin hanya sekedar kereta. sebagaimana kereta lainnya. tapi bagi saya dan pasti saya yakin begitu banyak penumpangnya, kereta ini telah berhasil membawa asa tentang penantian, dan perpisahan.

to be continued >>

No comments :

Post a Comment

Followers