April 27, 2011

ini Tulisan Untuk Kontes Cerita Indomie


Indomie, Dia dan Akhir Minggu

Bagi sebagian besar orang, indomie mungkin hanya menjadi sebuah menu makanan yang cocok untuk pelarian di saat sedikit lapar atau butuh cemilan. Bagi mahasiswa ngekos yang notabene tak memiliki penghasilan dan hanya mempunyai saku pas-pasan dari orangtua, indomie bisa jadi menu pas saat tanggal tua atau uang tabungan di bank semakin menipis. Bagi para pedagang burjo kuningan, indomie bisa jadi merupakan menu unggulan bersanding dengan nasi telor dan bubur kacang. Bagi anak-anak, indomie bisa jadi menu cemilan paling enak dan paling gurih dibanding cake sayur. Siapa juga yang mau makan cake rasa sayur?
Bagiku indomie adalah sebuah bagian dari setiap akhir minggu bersamanya. Pada awalnya indomie bagi kami memang sebuah pelarian dari harga menu makanan di warung prasmanan yang semakin mahal dan menguras jatah bulanan. Setiap akhir minggu ketika dia datang ke rumah yang kusewa bersama tujuh temanku di Yogyakarta, aku dan dia mulai selalu menyempatkan memasak indomie dengan berbagai kreasi entah itu hanya sekali atau dua kali sebelum dia kemudian kembali pergi ke kota Solo di awal minggu berikutnya untuk kembali melaksanakan studinya.
 Iya, karena bagiku dan dia akhir minggu adalah waktu singkat dan satu-satunya kesempatan untuk saling bertemu dan bercerita. Juga menghabiskan waktu bersama. Aku sedang menyelesaikan studi komunikasiku di salah satu universitas ternama di Yogyakarta, dan dia pun demikian. Sedang menjalankan studinya di sebuah universitas negeri di kota Solo. Maka, kami tak punya banyak waktu untuk bisa berdua dan berpacaran (entahlah, aku sangat menyukai istilah pacaran dibanding menjalin hubungan).
Ya... semenjak aku tinggal di rumah ini aku semakin keranjingan dengan dapur. Entah memasak tumis kangkung, sawi, membuat sop sayuran, atau menu-menu simple lainnya. Aku pun semakin rajin berbelanja indomie untuk stok akhir bulan. Tetapi bersamanya membuatku  lebih sering lagi memasak. Setiap Jumat dia akan mengantarkanku berbelanja di supermarket. Berbelanja beberapa sayuran, bumbu dapur, dan tentu saja stok indomie untuk beberapa hari ke depan.
Aku dan dia mulai merasa repot dengan masakan yang terlalu rumit dan merepotkan untuk dimasak, dan kami pun memutuskan untuk sesekali memasak indomie di kala kami malas untuk beranjak terlalu lama meramu makanan di dapur. Sebab tak bisa dipungkiri kalau indomie itu sangat mudah dan cepat dimasak dan disajikan.
Beberapa akhir minggu mulai kita isi dengan menu indomie dan serial korea. Saat itu pula aku terinspirasi menjadikan menu indomie tersaji dan dikonsumsi ala serial korea. Sejak saat itu, aku pun memasak indomie dengan berbagai kreasi. Tetapi menu indomie favorit kami tetap dua bungkus indomie yang kubuat dengan campuran brokoli, ditambahi bumbu rempah, dua butir telur dan sedikit tambahan mentega. Kemudian indomie kreasi itu akan kita santap dalam satu panci bersama dengan sumpit dan sendok sop hijau melamin favoritku.
Menu itu tak pernah lewat di setiap akhir minggu yang kulewati bersamanya di Jogja. Dengan meja lipat kecil yang kami bayangkan sebagai meja makan kami juga dengan bantuan kipas angin untuk meniupi uap panas mie dalam panci, kami selalu melewatkan malam di akhir minggu.
Entah sejak kapan, indomie kreasiku menjadi bagian dari hari-hariku dengannya. Kadang pesan pendeknya bilang bahwa dia merindukan saat-saat kami memasak indomie bersama di dapur kami. Dia selalu mendapat bagian me”ngeprek” bawang putihnya. Aku selalu dapat bagian mengoseng bumbu rempah dan brokoli. Lalu kami akan menggunakan telenan yang sama untuk mengalasi panci panas agar tak merusak meja lipatku. Oh, iya, juga dia akan selalu menyantap indomienya dengan sumpit oranye dan aku dengan sumpit merahku.
Anehnya lagi, aku menjadi tak bersemangat untuk memasak indomie jika tak ada dia disini. Menemaniku memasak atau menungguiku memasak sembari menonton televisi. Entahlah... mungkin bagiku dan dia, banyak sekali hal yang telah menjadi bagian dalam hidup kami yang bersama selama lima tahun ini. Dan indomie adalah bagian yang membuat kami rindu ketika kami sempat menghabiskan waktu berkualitas kami berdua di akhir minggu.
Terima kasih indomie telah mengisi hari-hariku dan hari-harinya. Dan membuatku ataupun dia memiliki kenangan. Ini adalah cerita indomie ku J

No comments :

Post a Comment

Followers