November 28, 2010

HOW TO FACE A LIFE

Tiba-tiba terinspirasi lirik lagu Paramore. musik mereka emang mainstream sekarang. saya gak suka fakta itu. tapi bagi saya they still the inspirational one. kalo saya bisa sedikit berbagi, ada satu lagu mereka yang ngeh banget buat saya. sebenernya beberapa lagu. some of their songs heard wonderful and independent. sangat labil kayak orang lagi puber. suka marah-marah, kadang sok paling keren dibanding yang lain, mm.. apalagi ya? nice and bisa buat ice breaking kala suntuk dan frustasi dengan hidup. even when u lost ur life direction. it still in me banget. entertaining and  so ensoul...

satu lagu nih milik paramore yang inn banget sama saya judulnya misguided ghost. kadang kan ketika kita dengerin musik yang masuk banget sama situasi hidup kita bisa bikin kita semakin masuk dalam alunannya. kayak udah sountrack of your life(inget sama id's satu radio di jogja) gitu tiba-tiba. nah, mungkin sebab saya frustasi sekarang dan mengalami jalan buntu menghadapi hidup, lagu ini menjadi sangat klop di hati.
ini ya, kalo saya boleh share pemahaman saya tentang liriknya, menurut saya lagu ini jika kita nikmati dan cermati liriknya, udah kayak temen kalo lagi masa suram. kalo dibilang kita hantu yang tersesat, itu kembali gara-gara kita enggak berani take the risks. lots of risks. we realizing that life is such a bundle of problem. face it, or run from it. kadang orang lebih suka opsi kedua. lari aja. kaburrrr....!!!! padahal bisa jadi itu yang bikin kita berkembang. changing being different you. but still you.
mm... masalah saya kok berkutat ke ini-ini aja ya? ya sudahlah. im still in progress. being another me but still me. saya maklum saja. sekarang tugasnya mengumpulkan sebanyak tenaga buat menghadapi malam ini dan besok. dan besoknya lagi. dan besoknya lagi. dan lagi dan lagi dan lagi. dan selalu lagi. im enjoying me. whether it not me today. but gonna be me in another day. and still me. real me. at least, not being anyone else.
oia, ini liriknya. mantap dah! silakan menikmati.

I am going away for a while But I'll be back don't try and follow me 'Cause I'll return as soon as possible See I'm trying to find my place And it might not be here where I feel safe We all learn to make mistakes

And run from them, from them With no direction We'll run from them, from them With no conviction

'Cause I'm just one of those ghosts Traveling endlessly Don't need no roads In fact they follow me And we just go in circles


Now I'm told that this is life And pain is just a simple compromise So we can get what we want out of it Would someone care to classify

Our broken hearts and twisted minds So I can find someone to rely on

And run to them, to them Full speed ahead Oh you are not useless We are just

Misguided ghosts Traveling endlessly The ones we trusted the most Pushed us far away

And there's no one road We should not be the same But I'm just a ghost And still they echo me

They echo me in circles


[ From: http://www.metrolyrics.com/misguided-ghosts-lyrics-paramore.html ]



November 26, 2010

retrospeksi


Saya sudah lelah menanggapi cercaan-cercaan yang muncul dari dalam diri saya sendiri. Mengapa harus seperti ini? mengapa saya tidak bisa seperti ini? mengapa mereka bisa seperti itu? mengapa saya tidak? mengapa dan mengapa yang lain. Segala ketidakpuasan yang selalu saja muncul dalam diri saya karena saya tidak bisa menjadi orang lain. Padahal, pertanyaan selanjutnya, apakah saya perlu menjadi orang lain? Tapi pertanyaan itu pun bisa digugat dengan pertanyaan lain, kenapa tidak jika orang lain itu lebih baik dari kamu dan patut dicontoh?
Saya membaca sebuah artikel yang mejabarkan kunci untuk bisa berpikir kreatif salah satunya jangan pernah berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saya tidak perlu menjadi eksis, saya tidak perlu punya foto-foto yang beranekaragam di facebook untuk bisa menjadi hebat, dan satu lagi yang penting, saya tidak perlu menjadi HEBAT, sebab keinginan itu membuat saya kalap dan ingin menjadi apapun, asal itu orang lain. Kuncinya mungkin, saya hanya perlu belajar bersyukur dan ikhlas. I miss u Allah... Setiap hari yang kita lewati bersama memberikan saya ketenangan dan kepercayaan diri. Keyakinan dan optimisme. Ketika kita menjauh, semua itu pun luntur dan lebur. Ketika saya secara sadar ingin menjauhiMu, saya pun semakin sadar bahwa jiwa jahat semakin tumbuh di diri saya. Ketidakpuasan tanpa pencapaian, keputusasan tanpa pencerahan, kegelapan tanpa sedikitpun pengharapan karena saya bergelimang dengan ketakutan untuk bernafas dan menengok sekitar. Karena setiap kali saya mengintip saja, kekecewaan dan kegilaan bergejolak dalam dada saya. Menginginkan saya untuk membunuh segala kejayaan yang saya lihat. Saya menjadi rakus dan angkuh. Ingin menjadi banyak orang dan merebut semua kehebatan mereka.
Apakah benar pernyataan bahwa setiap manusia itu jahat? Saya tak mampu lagi menggeneralisir. Tapi saya adalah orang munafik dan jahat itu nyata. Kegalauan, kerancauan, keributan, dan kekacauan dalam otak saya tak mau berhenti mengganggu saya. Apakah ini diri saya yang lain? Tidak. Saya tidak mau mengkambinghitamkan diri yang lain. Saya menerima diri saya seutuhnya sebagai manusia yang tak sempurna. Memiliki sisi jahat yang tak terkira dan tak terkendali. Saya hanya tidak mau menerima diri saya yang kadang ingin memungkiri kenyataan bahwa sisi jahat ini adalah pilihan saya sendiri.
Kikuk. Disorientasi.

November 18, 2010

krik krik

Menjadi sendiri kadang menyakitkan
Haus rumah haus ramah
Haus obrolan dan canda tawa
Ini bukan tentang cinta antara dua insan
Ini tentang hidup yang hampa
Apakah kamu pernah sedikit saja berpikir
Ada orang di sekitarmu yang ingin digapai tangannya
Dia yang selalu pergi sharian
Sendirian mencari tempat yang berwarna
Dan hanya sendirian
Dia yang selalu melihatmu
Bahagia dengan hidupmu
Yang tentu saj tidak sendirian
Dia yang selalu di dalam ruangannya
Sendirian
Menulis ini semua
Sendirian



Mencoba menjalani semua sendirian
Karena dia selalu merasa tak punya kekuatan
Apa kau peduli dengannya

TWENTYNINE PALMS

Saya bingung, film ini masuk genre apa ya? Drama? Thriller? Blue films? Atau bahkan komedi mungkin? Mungkin teman-teman yang membaca ini bisa memberi saya jawaban yang tepat. Terutama yang sudah menontonnya. Apalagi buat mereka kaum adam. Hehehe... Kaum adam yang "normal"(saya beri tanda kutip karena sebenarnya saya tidak ingin mengkotak-kotakkan lelaki menjadi normal dan tidak normal. Tapi istilah yang tepat mungkin "berbeda" . Kata ini lebih memiliki makna kesetaraan dalam keberagaman. Cieee....)
Cukup-cukup... Tadi saya sedang membicarakan film Twentynine Palms ya? Tentang sutradara, dan embel-embelnya saya minta maaf tidak mampu memaparkan, tahu kan alasannya? Karena itu film bajakan yang begitu disetel langsung tulisan twentynine Palms terus tiba-tiba sudah mulai lah adegannya. Dan tidak ada credit title di akhir film itu. Indonesia emang negara pembajak sih. Jangan salahkan saya soal ketidakrincian informasi deskriptif film ini. Tapi jika saya sudah bisa menemukan dan mengemasnya supaya mudah dibaca, saya lampirkan belakangan ya.
Film twenty palms ini secara garis besar menceritakan tentang sebuah perjalanan bulan madu sepasang kekasih di suatu wilayah yang bernama twentynine Palms. Daerah itu didominasi oleh gurun dan sabana yang sangat luas. Sampai-sampai ada pembangkit listrik tenaga angin di sana (harusnya tenaga panas matahri ya?). Banyak sekali ditemukan pegunungan batu dan semak-semak kering. Yah... Mirip-mirip salah satu tempat di Indonesia. Bukan Kalimantan! Juga bukan papua. Tapi Nusa Tenggara dan sebagian wilayah pulau Lombok. Atau kalo ingin membayangkan lebih imajinatif dan lebih mendekati sebenarnya, liat lah film-film koboy yang sarat aksi. Aksi naik kuda, aksi tembak-tembakan, aksi perampokan, aksi berdarah-darah gitu lah. Tapi jangan bayangkan film ini juga seperti itu, walau settingnya sebelas duabelas. Film ini dialognya sangat minim (enak banget ya yang bikin skenario?), tapi lebih banyak menggunakan ekspresi dan sikap untuk bercerita.
Dan yang sangat patut diperhitungkan dari film ini menurut saya adalah teknik fotografinya mantap. Bagus dari sisi komposisi, pengambilan angelnya pun bikin gregetan ikutan syuting dan numpang hunting foto. Soalnya entah bagaimana mas kameraman men shoot view, selalu tampak indah (yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata__walaupun dosen penulisan berita saya selalu mengatakan bahwa kata sifat harus dijelaskan secara rinci dengan keterangan yang jelas. Kaya cantik itu, harus dijelaskan dengan misalnya kulitnya putih, hidungnya mancung, giginya pake kawat, suka membaca go girl, tasnya dolce and gabbana, rambutnya di cat warna coklat kayak rambut jagung, sepatunya pake hak minimal 5 cm, dan facial setiap satu minggu sekali. Maaf bagi yang merasa demikian, karena memang ciri-ciri yang saya sebutkan tadi bukan fiktif belaka). Jadi untuk Anda yang sangat tertarik dengan fotografi, bisa juga belajar dari film ini.
Mengapa film yang membuat saya kecewa dengan endingnya ini malah memiliki banyak kelebihan yang tidak bisa tidak harus saya share sama teman-teman ya?!
Masih ada satu lagi kelebihan yang menurut saya ada dalam film ini. Terutama jika Anda ingin mendapat atmosfer baru menonton film. Cerita yang tidak bisa ditebak endingnya, dan sarat makna. Andai ini bukan review tapi cerita biasa, yang artinya saya tidak perlu menumbuhkan rasa penasaran  Anda untuk menonton, saya sudah tak tahan untuk menceritakan film ini dari awal sampai akhir dan mencoba memaknai nilai dan pesan yang tersirat dan tersurat dari film ini. tapi apa daya, lihatlah satu pesan moral penting dalam film ini dan mari kita diskusikan setelah menontonnya. Pesan moral seperti ini sepertinya sudah nge blur pada ide-ide film jaman sekarang. Hanya sedikit film yang masih memiliki pesan yang menggugah dan merepresentasikan hal unik dan ada di masyarakat. Seperti juga Turtle's Can Fly sebuah film tentang kehidupan anak-anak pengungsi di Irak.
Film ini sungguh tenang. Saya mengamati soundtracknya saja Cuma satu. Film ini memang tidak mengandalkan musik untuk membangun suasana mood dalam film. Tapi bagi anda yang bahkan tidak betah menonton 500 Days of Summer, mungkin tidak akan betah pula menonton film ini.
Akhirnya, silakan memilih untuk menonton film twentynine Palms ini atau tidak. Tidak ada paksaan. Tetapi semoga tulisan saya bisa membantu Anda sedikit berimajinasi mengenai film ini. atau bahkan menontonnya dan kemudian menghubungi saya untuk mengajak berdiskusi tentang film ini. karena film ini sangat menarik untuk didiskusikan baik dari kacamata gender, ras, dan sebagainya.
Oiya, tambahan, banyak situs yang concern dengan pengamatan dan review film memberi bintang yang sedikit untuk film ini. misalnya empat bintang dari sepuluh. Semoga itu tidak mengurungkan niat teman-teman untuk menonton. Walau itu juga bisa jadi pertimbangan untuk mengambil keputusan memilih menonton atau tidak. Hehehehe... Saya bicara berputar-putar sepertinya :p
Saya tunggu respon dari teman-teman!


diunduh dari www.theage.com.au

Adistya
Yogyakarta, 8 April 2010

November 08, 2010

tugas komunikasi internasional

ini adalah tugas mid semester yang saya buat sembari deg2 an mendengar gemuruh merapi selama sekitar dua jam. akibatnya saya mengerjakan tugas ini dengan panik dan deg2 an juga sesekali mondar mandir ke kamar teman satu kontrakan saya.hehehe... selamat menikmati...:)


DRAMA ASIA DAN DINAMIKA FASHION DI INDONESIA
Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Oleh: Adistya Prabawati I 22122






     Latar Belakang
     Fashion memiliki posisi yang penting di masyarakat. Termasuk di Indonesia. Fashion atau gaya berbusana bukan hanya sebuah kegiatan dan kebutuhan . Dia membawa ideologi dan prestise tersendiri sebagai sebuah gaya hidup. Dengan fashion, individu mencoba mengekspresikan suasana dan pikiran yang dia punyai.
     Seperti pula dalam musik, fashion pun memiliki banyak aliran, seperti fashion emo, harajuku, gothic, dan lain sebagainya. Ini tidak begitu saja terjadi. Selalu ada konteks historis di belakangnya. Entah dari individu yang memilih bergaya busana demikian, dengan latar belakang ideologi, tren, bahkan menjadi identitas sebuah komunitas. Seperti dandanan komunitas punk akan berbeda dengan komunitas pecinta komik Jepang.
     Salah satu fashion yang kini berkembang di Indonesia adalah tren berpakaian ala bintang serial drama Asia. Kecenderungan untuk meniru fashion ini mungkin saja disebabkan keunikan dan keinginan untuk turut serta menjadi molek seperti para artis Asia yang bermain di dalamnya. Tetapi, saya menggolongkan fashion Asia ini tumbuh disebabkan oleh tren sengaja dibuat oleh pasar. Artinya, fashion Asia ini saya sebut sebagai tren fashion mainstream. Lalu bagaimana perihal konteks historis fashion Asia ini mampu mendominasi dan apa alasan-alasannya? Kita akan mencoba menjawabnya dari tulisan ini. 
Mengapa Fashion Asia Merembes ke Indonesia?
    Fashion Asia kini menjadi tren di kalangan remaja Indonesia. Terutama bagi perempuan. Untuk melihat ini kita juga harus melihat bagaimana tren fashion ini bisa sampai di Indonesia. Alasannya, tidak lain tidak bukan adalah melalui media. Dengan diputarnya banyak drama Asia di Indonesia, masyarakat menjadi semakin nikmat menonton para artis dalam drama Asia tersebut. Kenikmatan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk meniru. Dan muncullah budaya popular baru di masyarakat. kemunculan ini tak lepas dari efek globalisasi yang memuluskan difusi antarnegara melalui tiga cara yang semua dimiliki media, yaitu komodifikasi, spasialisasi dan strukturalisasi1.
    Media mengepak dengan cantik tren fashion ini menggunakan medium serial drama Asia baik dari Cina, Korea Selatan dan Jepang. Setiap perempuan dan laki-laki yang tampil dalam drama ini selalu modis. Sementara itu rating dari serial drama inipun semakin naik.
    Memang dalam kajian budaya, utamanya dalam komunikasi antarbudaya, dikatakan bahwa pertukaran kebudayaan, akulturasi dan asimilasi juga difusi budaya bukanlah sesuatu yang bisa dielakkan. Komunikasi antarbudaya melalui media membuat individu memiliki keinginan untuk mempelajari budaya dari kelompok diluar grupnya. Dalam konteks komunikasi internasional, proses interaksi antarbudaya ini bisa saja mempengaruhi satu sama lain. Jika mengutip teori efek jarum suntik, audiens dikatakan menjadi pihak pasif yang menerima terpaan media. Maka, jika ide (budaya Asia) disebarkan melalui media, masyakarat Indonesia yang dominan rendah melek medianya pasti akan mudah terpengaruh. Inilah kunci kekuatan penyebaran tren fashion yang begitu cepat menyebar di Indonesia.
    Dari kacamata strukturalisme, kepentingan agen kapitalis bisa jadi alasan utama berdifusinya suatu budaya. Salah satu contoh kasusnya adalah banyaknya remaja perempuan yang senang menggunakan bando berpita setelah menonton serial Gossip Girl. Begitu juga dengan serial Asia ini.
    Kepentingan kapitalis tidak pernah lepas dari keuntungan dari pasar. Dalam konteks ini, Indonesia dibidik menjadi pasar potensial bagi agen-agen kapitalis ini. Maka melalui serial drama ini, fashion ala Cina, Korea Selatan dan Jepang ini pun didifusikan ke Indonesia untuk menarik minat pasar. Apalagi produk-produk fashion dari ketiga negara tersebut jauh lebih murah daripada yang dibanding produk keluaran Eropa atau Amerika. Dengan kelebihan lain yaitu modelnya pun tak kalah menarik.
Kritik Teori Kultural Imperialisme
    Teori imperalisme cultural menjelaskan mengenai dominasi barat terhadap  negara dunia ketiga. “Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga...mereka mempunyai uang... kedua mereka mempunyai teknologi”(nurudin, 175: 2007). Melihat kecenderungan manusia yang tidak memiliki kebebasan berpikir dan bagaimana mereka hidup, mereka akan dengan mudah mempercayai apa yang ada di televisi. Termasuk keinginan-keinginan yang timbul akibat adanya televisi, yang dulu didominasi oleh konten kebarat-baratan.
    Tetapi kenyataannya kini media memiliki lebih banyak variasi konten. Tak hanya film dari Hollywood, film dan serial dari Asia pun mampu menarik minat penonton di Indonesia. Unsure kebaruan dan atmosfer berbeda yang terasa lebih dekat dengan budaya Indonesia juga membuat penonton menjadi tertarik untuk menghabiskan waktu dengan menonton serial atau film Asia. Banyak acara di televisi yang mulai mencari-cari keunikan dari negara-negara Asia ini untuk diberikan kepada penonton di Indonesia. Sebab nyatanya animo masyarakat Indonesia terhadap negara-negara ini juga cukup besar.
    Dalam segi fashion pun demikian. Walau pada awalnya sebagian masyarakat risih melihat dandanan harajuku yang sangat rumit, kini banyak remaja yang mulai gandrung dan berkiblat pada fashion ala harajuku sebagai gaya berbusana mereka. Pakaian-pakaian mini dress dengan warna lembut, kadang bermotif bunga dan kalung mutiara juga sedikit banyak mendominasi gaya busana remaja perkotaan. Tak luput pun dengan remaja laki-laki yang mulai senang menggunakan blazer dan kaos dengan warna cerah. Itu hanya beberapa karakteristik khas dari gaya berbusana yang dibawakan oleh serial drama Asia. Masih ada lagi banyak gaya busana lain yang cenderung berbeda dengan gaya busana kebarat-baratan.
    Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Ini menandakan bahwa dari sisi fashion yang dibawa oleh media, barat tak lagi sepenuhnya mendominasi. Walaupun kini fashion barat masih mengungguli fashion di Asia, namun dengan beberapa keunggulan yang dimiliki fashion Asia dia mampu menggeser popularitas barat. Artinya, barat sudah tak mendominasi media negara dunia ketiga lagi untuk beberapa aspek dalam konten media, termasuk fashion. Dan ini mematahkan teori imperialism kultural.


 
Tantangannya...
    Sebagai sebuah mode baru dalam dunia fashion yang didifusikan melalui media, kini fashion Asia pun dipermudah dengan media baru internet, yaitu melalui toko-toko online. Dengan demikian, masyarakat penggemar fashion ala Asia semakin mudah mendapatkan berbagai baju dan aksesoris ala Asia. Memang ini keunggulan karena artinya barat menjadi punya pesaing, tetapi bagi Indonesia sendiri, masalah yang kemudian muncul tetaplah sama. Masyarakat tak pernah lepas dari budaya pop yang berimbas menjadi budaya konsumsi.
    Ini seperti ungkapan “lepas dari mulut harimau, jatuh ke lubang buaya”. Keduanya bukan menyodorkan solusi. Sebab sama-sama menggerus kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ini sama saja masyarakat Indonesia tetap memiliki tantangan yang kuat terutama dalam mempertahankan identitas diri. Jika sampai ke depannya tetap saj mencari kiblat untuk bergaya, maka mereka tak akan bisa lepas dari agen kapitalis yang tak memperdulikan teori melainkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
    Salah satu solusi walaupun kini masih jauh untuk bisa diparktekkan adalah membangun kembali kearifan lokal, termasuk dalam hal fashion. Industri handmade berbagai pernak pernik yang kini marak bisa jadi contoh perintisan awal. Walau demikian, pemerintah pun harus mendukung berkembangnya industri ini yang rata-rata masih di taraf industri rumah tangga.
    Globalisasi memang banyak memberi dampak buruk dan mengacaukan banyak negara dalam hal identitasnya. Tapi mestinya baik media, media global, pemerintah dan berbagai agen dalam struktur yang berkepentingan atas hal ini berusaha mengatur bagaimana hubungan antarnegara termasuk interaksi media mereka agar tak saling mengganggu atau mencoba mendominasi satu sama lain.
***
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Garafindo Persada
Barker, Chris. 2000. Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Situs:
  http://wisnumartha14.blogspot.com/2009/12/ekonomi-politik-media-seri-belajar.html

November 01, 2010

tinta pertama

(sudah) pagi. saya masih terjaga. penyakit saya kumat lagi. butuh terapi panjang untuk menyembuhkannya. mungkin akan sangat panjang. apalagi dengan tempat tinggal yang sepanas ini. tapi ternyata ada manfaatnya juga. saya tetap bisa melakukan sesuatu. membuat blog ini. mungkin insomnia memang penyakit mahasiswa yang bermanfaat.

salam kenal dan salam menulis
selamat menikmati tulisan saya dan silakan berkomentar. terima kasih




Followers