November 18, 2010

TWENTYNINE PALMS

Saya bingung, film ini masuk genre apa ya? Drama? Thriller? Blue films? Atau bahkan komedi mungkin? Mungkin teman-teman yang membaca ini bisa memberi saya jawaban yang tepat. Terutama yang sudah menontonnya. Apalagi buat mereka kaum adam. Hehehe... Kaum adam yang "normal"(saya beri tanda kutip karena sebenarnya saya tidak ingin mengkotak-kotakkan lelaki menjadi normal dan tidak normal. Tapi istilah yang tepat mungkin "berbeda" . Kata ini lebih memiliki makna kesetaraan dalam keberagaman. Cieee....)
Cukup-cukup... Tadi saya sedang membicarakan film Twentynine Palms ya? Tentang sutradara, dan embel-embelnya saya minta maaf tidak mampu memaparkan, tahu kan alasannya? Karena itu film bajakan yang begitu disetel langsung tulisan twentynine Palms terus tiba-tiba sudah mulai lah adegannya. Dan tidak ada credit title di akhir film itu. Indonesia emang negara pembajak sih. Jangan salahkan saya soal ketidakrincian informasi deskriptif film ini. Tapi jika saya sudah bisa menemukan dan mengemasnya supaya mudah dibaca, saya lampirkan belakangan ya.
Film twenty palms ini secara garis besar menceritakan tentang sebuah perjalanan bulan madu sepasang kekasih di suatu wilayah yang bernama twentynine Palms. Daerah itu didominasi oleh gurun dan sabana yang sangat luas. Sampai-sampai ada pembangkit listrik tenaga angin di sana (harusnya tenaga panas matahri ya?). Banyak sekali ditemukan pegunungan batu dan semak-semak kering. Yah... Mirip-mirip salah satu tempat di Indonesia. Bukan Kalimantan! Juga bukan papua. Tapi Nusa Tenggara dan sebagian wilayah pulau Lombok. Atau kalo ingin membayangkan lebih imajinatif dan lebih mendekati sebenarnya, liat lah film-film koboy yang sarat aksi. Aksi naik kuda, aksi tembak-tembakan, aksi perampokan, aksi berdarah-darah gitu lah. Tapi jangan bayangkan film ini juga seperti itu, walau settingnya sebelas duabelas. Film ini dialognya sangat minim (enak banget ya yang bikin skenario?), tapi lebih banyak menggunakan ekspresi dan sikap untuk bercerita.
Dan yang sangat patut diperhitungkan dari film ini menurut saya adalah teknik fotografinya mantap. Bagus dari sisi komposisi, pengambilan angelnya pun bikin gregetan ikutan syuting dan numpang hunting foto. Soalnya entah bagaimana mas kameraman men shoot view, selalu tampak indah (yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata__walaupun dosen penulisan berita saya selalu mengatakan bahwa kata sifat harus dijelaskan secara rinci dengan keterangan yang jelas. Kaya cantik itu, harus dijelaskan dengan misalnya kulitnya putih, hidungnya mancung, giginya pake kawat, suka membaca go girl, tasnya dolce and gabbana, rambutnya di cat warna coklat kayak rambut jagung, sepatunya pake hak minimal 5 cm, dan facial setiap satu minggu sekali. Maaf bagi yang merasa demikian, karena memang ciri-ciri yang saya sebutkan tadi bukan fiktif belaka). Jadi untuk Anda yang sangat tertarik dengan fotografi, bisa juga belajar dari film ini.
Mengapa film yang membuat saya kecewa dengan endingnya ini malah memiliki banyak kelebihan yang tidak bisa tidak harus saya share sama teman-teman ya?!
Masih ada satu lagi kelebihan yang menurut saya ada dalam film ini. Terutama jika Anda ingin mendapat atmosfer baru menonton film. Cerita yang tidak bisa ditebak endingnya, dan sarat makna. Andai ini bukan review tapi cerita biasa, yang artinya saya tidak perlu menumbuhkan rasa penasaran  Anda untuk menonton, saya sudah tak tahan untuk menceritakan film ini dari awal sampai akhir dan mencoba memaknai nilai dan pesan yang tersirat dan tersurat dari film ini. tapi apa daya, lihatlah satu pesan moral penting dalam film ini dan mari kita diskusikan setelah menontonnya. Pesan moral seperti ini sepertinya sudah nge blur pada ide-ide film jaman sekarang. Hanya sedikit film yang masih memiliki pesan yang menggugah dan merepresentasikan hal unik dan ada di masyarakat. Seperti juga Turtle's Can Fly sebuah film tentang kehidupan anak-anak pengungsi di Irak.
Film ini sungguh tenang. Saya mengamati soundtracknya saja Cuma satu. Film ini memang tidak mengandalkan musik untuk membangun suasana mood dalam film. Tapi bagi anda yang bahkan tidak betah menonton 500 Days of Summer, mungkin tidak akan betah pula menonton film ini.
Akhirnya, silakan memilih untuk menonton film twentynine Palms ini atau tidak. Tidak ada paksaan. Tetapi semoga tulisan saya bisa membantu Anda sedikit berimajinasi mengenai film ini. atau bahkan menontonnya dan kemudian menghubungi saya untuk mengajak berdiskusi tentang film ini. karena film ini sangat menarik untuk didiskusikan baik dari kacamata gender, ras, dan sebagainya.
Oiya, tambahan, banyak situs yang concern dengan pengamatan dan review film memberi bintang yang sedikit untuk film ini. misalnya empat bintang dari sepuluh. Semoga itu tidak mengurungkan niat teman-teman untuk menonton. Walau itu juga bisa jadi pertimbangan untuk mengambil keputusan memilih menonton atau tidak. Hehehehe... Saya bicara berputar-putar sepertinya :p
Saya tunggu respon dari teman-teman!


diunduh dari www.theage.com.au

Adistya
Yogyakarta, 8 April 2010

No comments :

Post a Comment

Followers