November 08, 2010

tugas komunikasi internasional

ini adalah tugas mid semester yang saya buat sembari deg2 an mendengar gemuruh merapi selama sekitar dua jam. akibatnya saya mengerjakan tugas ini dengan panik dan deg2 an juga sesekali mondar mandir ke kamar teman satu kontrakan saya.hehehe... selamat menikmati...:)


DRAMA ASIA DAN DINAMIKA FASHION DI INDONESIA
Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Oleh: Adistya Prabawati I 22122






     Latar Belakang
     Fashion memiliki posisi yang penting di masyarakat. Termasuk di Indonesia. Fashion atau gaya berbusana bukan hanya sebuah kegiatan dan kebutuhan . Dia membawa ideologi dan prestise tersendiri sebagai sebuah gaya hidup. Dengan fashion, individu mencoba mengekspresikan suasana dan pikiran yang dia punyai.
     Seperti pula dalam musik, fashion pun memiliki banyak aliran, seperti fashion emo, harajuku, gothic, dan lain sebagainya. Ini tidak begitu saja terjadi. Selalu ada konteks historis di belakangnya. Entah dari individu yang memilih bergaya busana demikian, dengan latar belakang ideologi, tren, bahkan menjadi identitas sebuah komunitas. Seperti dandanan komunitas punk akan berbeda dengan komunitas pecinta komik Jepang.
     Salah satu fashion yang kini berkembang di Indonesia adalah tren berpakaian ala bintang serial drama Asia. Kecenderungan untuk meniru fashion ini mungkin saja disebabkan keunikan dan keinginan untuk turut serta menjadi molek seperti para artis Asia yang bermain di dalamnya. Tetapi, saya menggolongkan fashion Asia ini tumbuh disebabkan oleh tren sengaja dibuat oleh pasar. Artinya, fashion Asia ini saya sebut sebagai tren fashion mainstream. Lalu bagaimana perihal konteks historis fashion Asia ini mampu mendominasi dan apa alasan-alasannya? Kita akan mencoba menjawabnya dari tulisan ini. 
Mengapa Fashion Asia Merembes ke Indonesia?
    Fashion Asia kini menjadi tren di kalangan remaja Indonesia. Terutama bagi perempuan. Untuk melihat ini kita juga harus melihat bagaimana tren fashion ini bisa sampai di Indonesia. Alasannya, tidak lain tidak bukan adalah melalui media. Dengan diputarnya banyak drama Asia di Indonesia, masyarakat menjadi semakin nikmat menonton para artis dalam drama Asia tersebut. Kenikmatan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk meniru. Dan muncullah budaya popular baru di masyarakat. kemunculan ini tak lepas dari efek globalisasi yang memuluskan difusi antarnegara melalui tiga cara yang semua dimiliki media, yaitu komodifikasi, spasialisasi dan strukturalisasi1.
    Media mengepak dengan cantik tren fashion ini menggunakan medium serial drama Asia baik dari Cina, Korea Selatan dan Jepang. Setiap perempuan dan laki-laki yang tampil dalam drama ini selalu modis. Sementara itu rating dari serial drama inipun semakin naik.
    Memang dalam kajian budaya, utamanya dalam komunikasi antarbudaya, dikatakan bahwa pertukaran kebudayaan, akulturasi dan asimilasi juga difusi budaya bukanlah sesuatu yang bisa dielakkan. Komunikasi antarbudaya melalui media membuat individu memiliki keinginan untuk mempelajari budaya dari kelompok diluar grupnya. Dalam konteks komunikasi internasional, proses interaksi antarbudaya ini bisa saja mempengaruhi satu sama lain. Jika mengutip teori efek jarum suntik, audiens dikatakan menjadi pihak pasif yang menerima terpaan media. Maka, jika ide (budaya Asia) disebarkan melalui media, masyakarat Indonesia yang dominan rendah melek medianya pasti akan mudah terpengaruh. Inilah kunci kekuatan penyebaran tren fashion yang begitu cepat menyebar di Indonesia.
    Dari kacamata strukturalisme, kepentingan agen kapitalis bisa jadi alasan utama berdifusinya suatu budaya. Salah satu contoh kasusnya adalah banyaknya remaja perempuan yang senang menggunakan bando berpita setelah menonton serial Gossip Girl. Begitu juga dengan serial Asia ini.
    Kepentingan kapitalis tidak pernah lepas dari keuntungan dari pasar. Dalam konteks ini, Indonesia dibidik menjadi pasar potensial bagi agen-agen kapitalis ini. Maka melalui serial drama ini, fashion ala Cina, Korea Selatan dan Jepang ini pun didifusikan ke Indonesia untuk menarik minat pasar. Apalagi produk-produk fashion dari ketiga negara tersebut jauh lebih murah daripada yang dibanding produk keluaran Eropa atau Amerika. Dengan kelebihan lain yaitu modelnya pun tak kalah menarik.
Kritik Teori Kultural Imperialisme
    Teori imperalisme cultural menjelaskan mengenai dominasi barat terhadap  negara dunia ketiga. “Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga...mereka mempunyai uang... kedua mereka mempunyai teknologi”(nurudin, 175: 2007). Melihat kecenderungan manusia yang tidak memiliki kebebasan berpikir dan bagaimana mereka hidup, mereka akan dengan mudah mempercayai apa yang ada di televisi. Termasuk keinginan-keinginan yang timbul akibat adanya televisi, yang dulu didominasi oleh konten kebarat-baratan.
    Tetapi kenyataannya kini media memiliki lebih banyak variasi konten. Tak hanya film dari Hollywood, film dan serial dari Asia pun mampu menarik minat penonton di Indonesia. Unsure kebaruan dan atmosfer berbeda yang terasa lebih dekat dengan budaya Indonesia juga membuat penonton menjadi tertarik untuk menghabiskan waktu dengan menonton serial atau film Asia. Banyak acara di televisi yang mulai mencari-cari keunikan dari negara-negara Asia ini untuk diberikan kepada penonton di Indonesia. Sebab nyatanya animo masyarakat Indonesia terhadap negara-negara ini juga cukup besar.
    Dalam segi fashion pun demikian. Walau pada awalnya sebagian masyarakat risih melihat dandanan harajuku yang sangat rumit, kini banyak remaja yang mulai gandrung dan berkiblat pada fashion ala harajuku sebagai gaya berbusana mereka. Pakaian-pakaian mini dress dengan warna lembut, kadang bermotif bunga dan kalung mutiara juga sedikit banyak mendominasi gaya busana remaja perkotaan. Tak luput pun dengan remaja laki-laki yang mulai senang menggunakan blazer dan kaos dengan warna cerah. Itu hanya beberapa karakteristik khas dari gaya berbusana yang dibawakan oleh serial drama Asia. Masih ada lagi banyak gaya busana lain yang cenderung berbeda dengan gaya busana kebarat-baratan.
    Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Ini menandakan bahwa dari sisi fashion yang dibawa oleh media, barat tak lagi sepenuhnya mendominasi. Walaupun kini fashion barat masih mengungguli fashion di Asia, namun dengan beberapa keunggulan yang dimiliki fashion Asia dia mampu menggeser popularitas barat. Artinya, barat sudah tak mendominasi media negara dunia ketiga lagi untuk beberapa aspek dalam konten media, termasuk fashion. Dan ini mematahkan teori imperialism kultural.


 
Tantangannya...
    Sebagai sebuah mode baru dalam dunia fashion yang didifusikan melalui media, kini fashion Asia pun dipermudah dengan media baru internet, yaitu melalui toko-toko online. Dengan demikian, masyarakat penggemar fashion ala Asia semakin mudah mendapatkan berbagai baju dan aksesoris ala Asia. Memang ini keunggulan karena artinya barat menjadi punya pesaing, tetapi bagi Indonesia sendiri, masalah yang kemudian muncul tetaplah sama. Masyarakat tak pernah lepas dari budaya pop yang berimbas menjadi budaya konsumsi.
    Ini seperti ungkapan “lepas dari mulut harimau, jatuh ke lubang buaya”. Keduanya bukan menyodorkan solusi. Sebab sama-sama menggerus kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ini sama saja masyarakat Indonesia tetap memiliki tantangan yang kuat terutama dalam mempertahankan identitas diri. Jika sampai ke depannya tetap saj mencari kiblat untuk bergaya, maka mereka tak akan bisa lepas dari agen kapitalis yang tak memperdulikan teori melainkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
    Salah satu solusi walaupun kini masih jauh untuk bisa diparktekkan adalah membangun kembali kearifan lokal, termasuk dalam hal fashion. Industri handmade berbagai pernak pernik yang kini marak bisa jadi contoh perintisan awal. Walau demikian, pemerintah pun harus mendukung berkembangnya industri ini yang rata-rata masih di taraf industri rumah tangga.
    Globalisasi memang banyak memberi dampak buruk dan mengacaukan banyak negara dalam hal identitasnya. Tapi mestinya baik media, media global, pemerintah dan berbagai agen dalam struktur yang berkepentingan atas hal ini berusaha mengatur bagaimana hubungan antarnegara termasuk interaksi media mereka agar tak saling mengganggu atau mencoba mendominasi satu sama lain.
***
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Garafindo Persada
Barker, Chris. 2000. Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Situs:
  http://wisnumartha14.blogspot.com/2009/12/ekonomi-politik-media-seri-belajar.html

No comments :

Post a Comment

Followers