November 26, 2010

retrospeksi


Saya sudah lelah menanggapi cercaan-cercaan yang muncul dari dalam diri saya sendiri. Mengapa harus seperti ini? mengapa saya tidak bisa seperti ini? mengapa mereka bisa seperti itu? mengapa saya tidak? mengapa dan mengapa yang lain. Segala ketidakpuasan yang selalu saja muncul dalam diri saya karena saya tidak bisa menjadi orang lain. Padahal, pertanyaan selanjutnya, apakah saya perlu menjadi orang lain? Tapi pertanyaan itu pun bisa digugat dengan pertanyaan lain, kenapa tidak jika orang lain itu lebih baik dari kamu dan patut dicontoh?
Saya membaca sebuah artikel yang mejabarkan kunci untuk bisa berpikir kreatif salah satunya jangan pernah berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saya tidak perlu menjadi eksis, saya tidak perlu punya foto-foto yang beranekaragam di facebook untuk bisa menjadi hebat, dan satu lagi yang penting, saya tidak perlu menjadi HEBAT, sebab keinginan itu membuat saya kalap dan ingin menjadi apapun, asal itu orang lain. Kuncinya mungkin, saya hanya perlu belajar bersyukur dan ikhlas. I miss u Allah... Setiap hari yang kita lewati bersama memberikan saya ketenangan dan kepercayaan diri. Keyakinan dan optimisme. Ketika kita menjauh, semua itu pun luntur dan lebur. Ketika saya secara sadar ingin menjauhiMu, saya pun semakin sadar bahwa jiwa jahat semakin tumbuh di diri saya. Ketidakpuasan tanpa pencapaian, keputusasan tanpa pencerahan, kegelapan tanpa sedikitpun pengharapan karena saya bergelimang dengan ketakutan untuk bernafas dan menengok sekitar. Karena setiap kali saya mengintip saja, kekecewaan dan kegilaan bergejolak dalam dada saya. Menginginkan saya untuk membunuh segala kejayaan yang saya lihat. Saya menjadi rakus dan angkuh. Ingin menjadi banyak orang dan merebut semua kehebatan mereka.
Apakah benar pernyataan bahwa setiap manusia itu jahat? Saya tak mampu lagi menggeneralisir. Tapi saya adalah orang munafik dan jahat itu nyata. Kegalauan, kerancauan, keributan, dan kekacauan dalam otak saya tak mau berhenti mengganggu saya. Apakah ini diri saya yang lain? Tidak. Saya tidak mau mengkambinghitamkan diri yang lain. Saya menerima diri saya seutuhnya sebagai manusia yang tak sempurna. Memiliki sisi jahat yang tak terkira dan tak terkendali. Saya hanya tidak mau menerima diri saya yang kadang ingin memungkiri kenyataan bahwa sisi jahat ini adalah pilihan saya sendiri.
Kikuk. Disorientasi.

No comments :

Post a Comment

Followers