April 08, 2018

Apakah Jadi Istri Menghambat Pertemanan ?

Cerita jadi seorang istri tuh nggak bakal ada habisnya. Bahkan lama-lama bisa aku duitin juga nih kayaknya. Hahaha... kidding!


Nah, jadi Adis gimana nih kehidupan setelah menikah? "Bahagia aja kok", gitu jawabanku. Super simpel. Walaupun sebenarnya jawaban sederhana itu menyiratkan background cerita yang banyak dan macam-macam.

Menjadi seorang istri aja mungkin nggak susah. Tapi menurut riset dan pengalaman pribadiku, jadi istri itu mencakup lebih dari sekadar menjadi istri aja. Istri  itu menurutku harus bisa jadi anak perempuan yang baik, menantu yang baik, perempuan matur, tiba-tiba dunia jadi berubah deh.

Jadi istri  itu harus bisa berkompromi. Contoh gampangnya, berkompromi untuk nggak punya me-time sama temen sepanjang kamu menikah. Aku kangen... kangen ketawa bareng, curhat bareng, disayang-sayang sama teman-teman dekat... Tapi itulah kompromi, karena kita nggak cuma hidup sendiri lagi kan soalnya.

Jadi istri juga punya hal yang bisa bikin kamu seneng sih. Saat kamu nggak bisa me-time bareng BFF, kamu bisa seneng-seneng sama suami. Apalagi kalau suami punya minat yang nggak jauh-jauh beda sama kamu. Kalian jadi punya lebih banyak waktu untuk berdiskusi tentang minat kalian. Misalnya diskusi buat bangun rumah, desain interior mau gimana, aduh gemes banget deh yang kayak gini.

Di sisi lain, kehidupanmu bareng temen-temenmu mungkin akan makin berkurang hingga kamu tinggal punya temen yang ngerti bahwa kehidupan berumah tangga itu butuh komitmen waktu. Ya kalau temenmu ninggalin kamu, mungkin kamu akan sedih, tapi kamu juga akan ngerti suatu saat, mungkin mereka enggak buat kamu. Mereka kasih kamu pelajaran yang berharga, jadi walau mereka pergi (atau dari sisi mereka, kamu yang pergi), mereka kasih peran dalam hidupmu dan dirimu saat ini.


Berat banget tulisan gue....


Anyway, mungkin kamu akan segera ngerasain sendiri kan one day. Be wise and enjoy the tide whenever it's coming yah! Good Luck gurl gurl in the world!


Jakarta, 8 April 2018



February 13, 2018

Boam

This is Life Adis. 

This is life. Grumbling wont work on making things better. Nggak ada gunanya.


Yes, aku udah 2 bulan jadi seorang istri dan aku sadar masih jauh perjalananku buat jadi istri yang baik. Salah satu hal yang paling aku syukuri adalah aku punya suami yang super pengertian. Alhamdulillah... tapi kadang dengan pekerjaan yang menuntut waktuku banyak banget, jadinya aku nggak bisa kasih lebih banyak waktu ke suamiku. 

Apalagi, bumbu kehidupan ini membuat rasa-rasa di hidupku makin variatif. Pekerjaan jadi hal yang mengakuisisi 70% hidupku day to day. Cuma 30% yang bisa kuberikan untuk kehidupanku sebagai pengantin baru. Suka sedih, pengen mengeluh, tapi kadang mengeluh - apalagi kepada orang yang salah - bisa bikin hidupku bukan makin bener malah makin berantakan. 

Semuanya mungkin bisa gara-gara lingkungan kerjaku yang bisa dibilang enak nggak enak, tapi jelas nggak sehat. Tekanannya sangat tinggi, dan load kerjaannya nggak habis-habis. Kayak 7 hari dalam seminggu, 24 jam tiap harinya nggak akan cukup buatku nyelesaiin kerjaanku. Apalagi timku penuh dengan drama dan berhasil mengubahku jadi orang yang gampang naik pitam. 

Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit jengkel, sedikit-sedikit mau kabur. 

Tapi ya habis itu aku sadar, keluhan-keluhan itu nggak lain nggak bukan karena mereka cuma peduli diri mereka masing-masing, nggak mau ngakuin kalau kekacauan juga andil dari mereka (termasuk aku).

Keseringan denger hal buruk, negatif, dan nggak baik tentang banyak hal bikin otakmu jadi terkontaminasi dan lambat laun bikin kamu jadi BURUK. 


Yes , itu yang terjadi di aku.


Untungnya habis itu aku nggak pernah lupa buat lirik-lirik orang. Kepo-kepo buat belajar kehidupan. 

Dengerin cerita lain yang lebih berat dan nyebelin. 

Atau cerita yang justru inspiratif, kayak seorang teman seprofesi. Dia juga mengalami tekanan hidup yang mungkin lebih berat dari aku, tapi dia bisa tetep produktif dengan obsesinya sendiri, proyek personal macam gitu lah. 

Emang pada akhirnya semua ini hanya kerjaan. 

Emang semua orang tuh punya egonya masing-masing. 

Emang semua orang tuh paling sebel kalau dianggep salah kalau nggak sepenuhnya salah dia. 

Emang hidup itu nggak perlu dikasih space buat baper karena ada banyak hal yang kita nggak bisa tolak. Kalau ngeluh juga cuma bikin hidup jadi makin negatif. 


Tapi jangan lupa juga ya, komentar sama selera itu personal jadi alangkah baiknya kalau jangan ngerasa paling bener, atau paling oke. 

Untung Tuhanku Alloh yang selalu bikin aku minder untuk sombong dan ngerasa paling bener, karena Dia selalu ngingetin aku kalau yang Maha dari segala Maha ya cuma Dia. 



Just a random thought.

 Adis di awal 2018


*Long time no blogging, here's my back again article. Ups! I mean my back again grumbling*

September 09, 2016

Film Zombie yang Menginspirasi



  Train to Busan adalah film bergenre drama, eh horor, eh action, eh apa sih harusnya genre-nya? yang membuat dinding keberanian saya bergetar hebat tepat sebelum masuk ke ruang sinema. Sudah sekian lama saya tak pernah harus kepayahan menata nafas baik-baik mempersiapkan diri untuk menonton film di bioskop. Alasannya, kata orang ceritanya tentang zombie. Celakanya, saya sebenarnya paling anti film horor. Terakhir saya menonton zombie adalah film “I am A Legend”. Lupa sensasinya, inget keselnya pas anjing pelaku utama harus dibunuh sama si Will Smith sendiri gara-gara sudah terinfeksi virus zombie. Film yang menyisakan kesedihan berikut luka yang membekas.
Lebih dari sekadar luka emosional, saya juga menghindari film yang thrilling. Sejauh ini tak pernah saya temukan film zombie-zombiean yang nggak bikin deg-degan. Tiba-tiba zombie keluar dari kegelapan, atau ketika harus ikut ngos-ngosan pas lihat adegan orang dan zombie kejar-kejaran. Apalagi sensasi after taste-nya pas lagi jalan ke lewat lorong sendirian.
Singkat cerita, saya putuskan untuk bergabung dalam tim penonton Train to Busan. Bersama dengan empat orang teman sekantor, kami berangkat menuju Plaza Semanggi dimana disana ada Cinemaxx yang tiket filmnya jauh lebih murah dari Blitz. Lebih dari setengah harga murahnya. Setelah membeli popcorn micin dan minuman bersoda, kami masuk ke ruang sinema menata pantat agar memperoleh posisi ternyaman.

*


sources: http://wellgousa.com/theatrical/train-to-busan

Ada beberapa hal tak terduga tapi memang masuk akal dari film Train to Busan. Pertama, sebagai film produksi Korea Selatan, merupakan hal yang tak terlalu mengejutkan jika ceritanya menguras air mata. Mau nonton film zombie tapi malah bikin nangis? Nonton aja Train to Busan. Menurut saya, hal ini tak mengejutkan, melihat hampir semua film Korea yang pernah saya tonton tak bisa lari dari eksekusi cerita bernuansa drama.
Kedua, terlepas dari film ini wajar lebih bikin nangis dari pada bikin mringis ketakutan, Train to Busan sungguh membuat film zombie begitu ramah untuk para penakut. Alasannya, semua scene terjadi di siang hari. I am the Legend juga mengambil beberapa scene di siang hari, tapi tetep bikin deg-degan. Tetep bikin takut setengah mati, apalagi buat penakut seperti saya. 

sources: http://cdn5.thr.com/sites/default/files/2016/05/train_to_busan_h_2016.jpg

Selain itu, Train to Busan juga membuat terowongan jalur kereta nggak lagi horor. Setiap lihat terowongan kereta, saya selalu ingat scene di film Snowpiercer. Bukan film horor sih, film gore gitu, banyak adegan sadisnya. Nah, pas di terowongan itu, ada pasukan pembunuh yang sudah siap pakai kacamata infrared biar tetep bisa lihat orang yang jadi sasaran untuk dibunuh. Bayangin aja, di suatu gerbong kereta, ada dua kelompok. Satunya tanpa senjata, buluk, lemes tiap hari Cuma makan jeli dari kecoak, satunya gempal berotot, bawa senjata, bisa melihat di dalam gelap. Sadis banget adegannya. Eh tapi, di Train to Busan, terowongan itu, yang gelap itu, justru malah menguntungkan. Soalnya zombie-nya lebih kalem kalau gelap-gelapan.
Saya nggak mau spoiling lebih banyak sih. tapi itu sepintas pengalaman nonton film “horor” yang nggak melekat di beberapa hari berikutnya. Malahan menurut saya itu film drama aja. Zombie tuh Cuma bumbu-bumbu kehidupan. Tak lebih dari gelombang di pantai yang membuat pasir menjadi luruh dan hancur berkeping-keping.
Kalau sempat lihat trailernya, ada satu adegan epik dimana banyak zombie nggelendotin kereta ngejar manusia yang masih sehat. Sampe panjang gitu, sambung menyambung dan tindih menindih.
Saya kasih bintang 4 dari 5 deh. Bagus kok dan nggak nyesel nonton di bioskop. Eksekusinya parah bagus banget begitu juga dengan akting para pemainnya! Ya masuk cannes sih pasti kelas yaaaa....



***
Ini informasi untuk cast and crew nya disadur dari variety.com
Production
(South Korea) A Next Entertainment World release, presentation of a Redpeter Film production. (International sales: Contents Panda, Seoul.) Produced by Lee Dong-ha. Executive producer, Kim Woo-taek. Co-producer, Kim Yeon-ho.
Crew
Directed, written by Yeon Sang-ho. Camera (color, HD), Lee Hyung-deok; editor, Yang Jin-mo; music, Jang Young-gyu; production designer, Lee Mok-won; costume designer, Kwon Yoo-jin, Rim Seung-hee; sound, Choi Tae-young; special make-up, Kwak Tae-yong, Hwang Hyo-kyun; special effects, Demolition; visual effects supervisor, Jung Hwang-su; visual effects, Digital Idea.
With
Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi, Ma Dong-seok, Kim Eui-sung, Choi Woo-sik, An So-hee. (Korean dialogue)


Followers